Kubu Trump Pasang Deadline: Perang AS-Iran Gak Boleh Lewat dari 3 Bulan!
MOSKOW , nusaetamnews.com : Tim kampanye Donald Trump mulai buka suara soal tensi tinggi di Timur Tengah. George Papadopoulos, penasihat kebijakan luar negeri Trump, menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) sama sekali tidak berminat terseret dalam konflik berkepanjangan dengan Iran.
Papadopoulos mematok “deadline” tiga bulan sebagai batas maksimal keterlibatan militer AS jika ingin menjaga stabilitas domestik dan global.
Alasan Politis: Fokus ke Pemilu Paruh Waktu 2026
Bukan tanpa alasan, kebijakan ini sangat dipengaruhi oleh kalender politik di Washington. AS dijadwalkan menggelar Pemilu Paruh Waktu pada 3 November 2026 mendatang untuk memilih seluruh anggota DPR dan sepertiga Senat.
“Bukan kepentingan Amerika jika perang ini berlangsung lebih dari tiga bulan. Itu batas maksimalnya,” ujar Papadopoulos dalam sebuah wawancara. Menurutnya, konflik yang berlarut-larut hanya akan merugikan posisi politik AS, sekutu di Eropa, hingga Israel sendiri.
Kronologi: Balas Dendam yang Kian Memanas
Ketegangan ini mencapai titik didih setelah serangkaian aksi militer pada akhir Februari lalu:
- 28 Februari 2026: AS dan Israel melancarkan serangan udara ke target-target di Iran dengan alasan menangkal program nuklir.
- Dampak: Serangan tersebut memicu kerusakan signifikan dan jatuhnya korban sipil.
- Respons Iran: Teheran membalas dengan menggempur wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Target Akhir: Ganti Rezim?
Meski awalnya dalih serangan adalah masalah nuklir, belakangan AS dan Israel mulai terang-terangan menunjukkan agenda utama mereka: perubahan kekuasaan (regime change) di Iran.
Namun, dengan bayang-bayang Pemilu 2026 yang makin dekat, kubu Trump tampaknya ingin memastikan bahwa operasi militer ini tidak berubah menjadi “perang abadi” yang bisa menggerus suara pemilih di dalam negeri.