Keren! Teluk Manggar Balikpapan Jadi Role Model Tambak Sustainable, Gubernur Mas’ud Gas Konsep Silvofishery
Balikpapan (nusaetamnews.com) : Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, lagi optimis parah! Beliau yakin banget kawasan pesisir Teluk Manggar bakal jadi pusat percontohan sistem silvofishery—sebuah konsep gokil yang mengawinkan budidaya perikanan dengan pelestarian hutan mangrove (bakau) secara berkelanjutan.
“Kita ingin wilayah pesisir Kalimantan Timur, terutama yang dipakai petambak, bisa menjunjung tinggi model pelestarian alam dengan silvofishery,” kata Rudy saat blusukan meninjau potensi De Boekit Riverside Resort di Teluk Manggar, Balikpapan, Minggu.
Konsep integrasi lingkungan ini dinilai strategis abis karena nggak cuma menjaga keseimbangan ekologi pesisir, tapi juga ngasih cuan nyata (nilai ekonomi) buat masyarakat sekitar yang hidup dari hasil tambak.
Menurut Rudy, metode tambak ramah lingkungan ini adalah solusi paling sakti buat mencegah abrasi pantai. Abrasi ini, guys, udah jadi ancaman serius buat kelangsungan daratan di Benua Etam (julukan Kaltim).
De Boekit: Spot Bekantan & Laboratorium Alam Terbuka
De Boekit Riverside Resort dipilih jadi lokasi referensi karena mereka sukses banget mengelola tata ruang yang harmonis antara aktivitas manusia, bisnis perikanan, dan kelangsungan alam.
Pengunjung yang datang ke sini bisa saksiin langsung ekosistem hutan bakau yang rimbun dan fresh! Vegetasi mangrove yang terawat di sana terbukti ampuh jadi habitat alami super nyaman buat berbagai satwa endemik Kalimantan, most notably, Bekantan! 🥹
“Selain aspek konservasi satwa, kawasan ini juga menawarkan potensi edukasi yang sangat besar buat generasi muda, khususnya anak-anak sekolah yang mau belajar biologi kelautan,” spill Rudy.
Beliau berharap lokasi ini bisa jadi laboratorium alam terbuka yang bikin pelajar bisa paham siklus hidup biota air dan seberapa penting fungsi akar bakau itu.
Rudy menegaskan, kolaborasi antara Pemda, swasta, dan masyarakat pesisir adalah kunci ultimate buat wujudkan visi pembangunan hijau berkelanjutan di sektor kelautan ini.
“Stigma bahwa tambak selalu merusak lingkungan bisa terpatahkan secara ilmiah melalui bukti nyata keberhasilan penerapan sistem silvofishery yang disiplin,” tutup Rudy Mas’ud.
Kaltim membuktikan: Cuan dan konservasi bisa jalan barengan! (ant/one)