KELUAR DARI JEBAKAN TOKSIK! Psikolog Kaltim Ungkap Tanda Bahaya
SAMARINDA, nusaetamnews.com: Hubungan yang seharusnya jadi sumber kebahagiaan seringkali berubah menjadi penjara mental yang tak disadari. Psikolog Fransisca Debi Oktavia dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpsi Kalimantan Timur (Kaltim) membagikan insight penting tentang bagaimana seseorang bisa menyadari dirinya terjebak dalam hubungan toksik dan apa langkah penyelamatannya.
Menurut Fransisca, ada beberapa “rantai” yang membuat individu sulit kabur, antara lain:
- Durasi: Hubungan yang sudah berjalan terlalu lama.
- Ikatan Sosial: Keluarga dan teman sudah saling mengenal.
- Pola Kebiasaan: Pola interaksi negatif yang sudah terlanjur terbiasa dijalani.
Kenali Tanda-Tanda Hilangnya Jati Diri
Banyak individu terperangkap dalam siklus di mana mereka harus terus-menerus menyesuaikan diri demi ego pasangan, tanpa memikirkan kebutuhan batin sendiri. Dampaknya, secara emosional dan psikologis, sangat destruktif.
“Individu tersebut terpaksa harus selalu menyesuaikan diri secara terus-menerus demi memenuhi keinginan pasangannya tanpa memikirkan kebutuhan batinnya sendiri,” ungkap Fransisca.
Tanda-tanda Red Flag yang Perlu Diwaspadai:
- Kehilangan Diri: Melupakan hobi atau kegiatan positif yang dulu disukai karena semua energi tersita untuk melayani pasangan.
- Isolasi Sosial: Cenderung menarik diri, interaksi dengan sahabat lama atau dunia luar menjadi sangat terbatas.
- Menurunnya Fungsi Hidup: Tiba-tiba menjadi malas, kehilangan gairah, dan tidak produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Penting untuk Self-Check: Evaluasi secara jujur: Apakah Anda berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, atau justru menyusut menjadi kerdil dalam hubungan tersebut? Tanyakan pada hati: Lebih sering merasa takut atau merasa nyaman saat berada di dekat pasangan?
Tiga Kunci untuk Melepaskan Diri
Fransisca membagikan langkah krusial untuk memutus siklus toksik dan menyelamatkan mental health:
- Stop Penyangkalan (Acknowledge): Langkah pertama dan terpenting adalah mengakui perasaan sendiri dan berhenti menyangkal kenyataan bahwa hubungan tersebut memang sudah tidak sehat. Rasa sayang yang tersisa seringkali jadi penghalang, tapi penyangkalan hanya akan memperburuk kondisi mental jangka panjang.
- Verifikasi Perubahan Nyata: Pastikan apakah pasangan benar-benar mengubah perilakunya lewat tindakan nyata, bukan sekadar janji manis di bibir saja.
- Cari Support System Positif: Dukungan eksternal dari sistem pendukung yang positif, seperti teman dekat atau keluarga, sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental dalam fase kritis ini. (ant/ome)