Kaltim Pertahankan Gelar Raja Stunting! Dinkes Gaspol 5.000 Posyandu Jadi Ujung Tombak
SAMARINDA – Keren! Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) baru saja dinobatkan sebagai Terbaik Nasional Kategori Regional II untuk Aksi Intervensi Spesifik Stunting oleh Kemenkes RI.
Tapi, Dinkes Kaltim ogah cepat puas. Mereka langsung tancap gas mengoptimalkan lebih dari 5.000 Posyandu sebagai ujung tombak utama untuk mempertahankan predikat tersebut.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan tantangan terbesar kini adalah partisipasi masyarakat.
“Kami perlu menggerakkan pemberdayaan melalui Posyandu agar warga merasa program ini adalah kepentingan mereka sendiri,” kata Jaya di Samarinda, Rabu (12/11).
Posyandu Mati Suri Diaktifkan Kembali
Jaya mencatat, dari 5.000 lebih unit Posyandu di Kaltim, sebagian teridentifikasi tidak aktif. Padahal, Posyandu adalah kunci untuk mendekatkan akses kesehatan dan intervensi spesifik.
Strategi yang diambil jelas: mengaktifkan kembali unit-unit yang “mati suri” itu. Pemerintah sadar, secanggih apa pun sarana kesehatan, tidak akan maksimal tanpa kesadaran warga untuk memanfaatkannya.
Intervensi Konsisten dan Check Up Triwulan
Langkah konkret di lapangan sudah diterapkan secara konsisten di 10 kabupaten dan kota. Program yang dijalankan meliputi:
- Pemberian Makanan Tambahan Bergizi bagi kelompok rentan.
- Distribusi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri.
- Perubahan Perilaku Hidup Bersih (misalnya, kampanye stop buang air besar sembarangan).
Pelaksanaannya dievaluasi ketat setiap tiga bulan sekali (Triwulan I hingga III) untuk mengukur tingkat keberhasilan.
Fokus Khusus: Daerah 3T
Jaya menekankan, keberhasilan mutlak membutuhkan koordinasi intensif dengan Dinkes kabupaten/kota. Rapat teknis akan segera digelar untuk menyamakan persepsi dan langkah taktis.
Perhatian khusus diberikan pada wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang punya tantangan geografis berat:
- Kabupaten Mahakam Ulu
- Kutai Barat
- Daerah Pesisir Terujung di Berau
“Aksesibilitas layanan di kawasan terpencil ini terus didorong agar kesenjangan penanganan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedalaman dapat diminimalkan,” tutup Jaya. (ant/one)