Subscribe

Jembatan Nibung Sudah Bisa Dilintasi, Kawasan Pesisir akan Lebih Cepat Maju

2 minutes read

Samarinda – Kabar yang ditunggu-tunggu warga pesisir utara Kalimantan Timur akhirnya datang juga. Mulai Rabu, 25 Februari 2026, Jembatan Nibung yang menghubungkan Kampung Kadungan Jaya dan Pelawan di Kabupaten Kutai Timur resmi bisa dilalui masyarakat.

Jembatan ini bukan sekadar bentangan baja dan beton. Bagi banyak orang, ia memangkas waktu, jarak, sekaligus ongkos transportasi yang selama ini terasa berat.

Salah satu yang langsung merasakan dampaknya adalah Emek Farida, pedagang sembako di Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang. Setiap kali belanja barang ke Kaubun, ia harus mengeluarkan ongkos penyeberangan feri Rp200 ribu sekali jalan. Pergi-pulang, uang Rp400 ribu melayang hanya untuk menyeberang.

Alternatif lain lewat jalur darat pun bukan solusi murah. Ia harus memutar sejauh sekitar 140 kilometer melalui Kecamatan Karangan. Waktu terbuang, bahan bakar terkuras.

“Setelah jembatan diresmikan, saya bisa hemat Rp400 ribu. Tinggal siapkan beli bensin saja kalau mau belanja,” ujarnya lega.

Peresmian jembatan dilakukan sehari sebelumnya oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud. Sejak itu, arus kendaraan mulai bergerak melintasi sungai yang selama ini menjadi sekat aktivitas warga.

Emek Farida hanyalah satu cerita kecil dari dampak besar yang berpotensi muncul. Jembatan ini membuka konektivitas kawasan utara Kaltim melalui jalur pesisir, memperlancar distribusi barang, memangkas biaya logistik dan mempermudah mobilitas dari Kutai Timur hingga Berau.

Proyek ini sendiri bukan pekerjaan singkat. Perencanaannya dimulai sejak 2013. Pekerjaan fisik berjalan pada 2014, namun terhenti dua tahun kemudian. Setelah sempat mangkrak cukup lama, proyek diaudit ulang secara teknis pada 2021 dan dilanjutkan kembali pengerjaan fisiknya pada 2022 hingga akhirnya rampung.

Dorongan percepatan dilakukan setelah pergantian kepemimpinan provinsi. Pemerintah memastikan proyek strategis itu tidak kembali terhenti.

Dalam peresmian, Gubernur mengingatkan agar jembatan dirawat bersama. “Tolong dijaga dan dirawat, jembatan ini milik kita bersama. Jangan sampai hilang bautnya. Semoga bermanfaat,” pesannya.

Meski sudah bisa dilalui, jembatan ini masih menunggu uji beban penuh, terutama untuk kendaraan bertonase besar. Kepala Dinas PUPR Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda menegaskan untuk sementara kendaraan roda empat tanpa muatan berat dan sepeda motor sudah diperbolehkan melintas.

Bagi warga seperti Emek Farida, yang penting jembatan itu kini nyata dan bisa dilewati. Sebab bagi mereka, setiap rupiah yang bisa dihemat dan setiap jam perjalanan yang bisa dipangkas, berarti tambahan napas untuk bertahan dan berkembang.

Kehadiran jembatan di atas Sungai Nibung itu akan menjadi pengungkit kemajuan kawasan pesisir Kalimantan Timur wilayah utara. Jembatan ini akan membantu transportasi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *