Jembatan Mahakam “Babak Belur” Ditabrak 24 Kali, Pemprov Kaltim Gaspol Proyek Dolphin Tambat!
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur akhirnya mengambil langkah ekstrem untuk menyelamatkan ikon Kota Samarinda. Menyusul rekor kelam 24 kali insiden tabrakan tongkang hingga Maret 2026, proyek infrastruktur dolphin tambat kini resmi dikejar sebagai pelindung utama Jembatan Mahakam.
Kepala Bidang Pelayaran Dishub Kaltim, Ahmad Maslihuddin, menegaskan bahwa percepatan ini bersifat mendesak demi memutus rantai kecelakaan air di titik paling rawan Sungai Mahakam.
Rekor Merah: 24 Kali Dihantam Tongkang
Kondisi Jembatan Mahakam I kini dalam status siaga. Data terbaru menunjukkan betapa tingginya risiko pelayaran di jalur emas batu bara ini:
- Total Insiden: 24 kali ditabrak tongkang (Data per Maret 2026).
- Tren Setahun Terakhir: 6 insiden terjadi hanya dalam rentang Februari 2025 hingga Maret 2026.
- Kejadian Teranyar: 8 Maret 2026, di mana benturan tongkang merusak fatal bagian fender (pelindung) jembatan.
- Efek Domino: Jembatan Mahakam Ulu juga tak luput dari sasaran, tercatat 2 kali tertabrak hanya dalam waktu dua pekan di awal tahun 2026.
Solusi Taktis: Dolphin Tambat & Sistem Pengolongan
Dishub Kaltim kini fokus pada pengoptimalan arus kapal di bawah jembatan melalui pembangunan fasilitas pendukung sistem pengolongan.
“Fokus kami adalah menekan risiko kecelakaan air melalui pembangunan dolphin tambat dan fasilitas pendukung lainnya. Ini adalah langkah konkret hasil koordinasi lintas sektor pasca penetapan alur pelayaran yang lebih terstruktur,” ujar Maslihuddin di Samarinda, Rabu (25/3).
Evaluasi Total Regulasi Rute
Tak hanya soal fisik bangunan, Pemprov Kaltim juga mulai “bersih-bersih” regulasi. Maslihuddin menyebut pihaknya tengah meninjau ulang kebijakan rute pelayaran agar lebih adaptif dengan kepadatan trafik kapal saat ini.
Langkah ini diambil untuk memastikan ekosistem transportasi perairan di Kaltim tidak hanya efisien secara ekonomi, tapi juga aman bagi infrastruktur publik yang bernilai triliunan rupiah. (ant/one)