Jejak Tuan Tunggang Parangan: Ulama “Cool” yang Ubah Sejarah Kutai Tanpa Perang
SAMARINDA – Sejarah Kalimantan Timur ternyata punya cerita epik tentang transformasi budaya yang super damai. Sejarawan Kaltim, Muhammad Sarip, baru saja menelusuri kembali kisah Tuan Tunggang Parangan, ulama kharismatik yang sukses mengubah wajah Kerajaan Kutai dari monarki Hindu menjadi kesultanan Islam pada abad ke-16.
Bukan lewat jalur kekerasan, “hijrah” besar-besaran kerajaan tertua di Indonesia ini terjadi berkat pendekatan dakwah yang inklusif dan santun.
“Ini adalah awal era baru bagi Kutai Kertanegara. Islam jadi agama resmi dengan corak yang akomodatif dan menjunjung tinggi toleransi,” ujar Sarip di Samarinda, Minggu (22/2).
The Journey: Misi Solo Menyeberangi Selat Makassar
Kisah ini bermula sekitar tahun 1575. Awalnya, Tuan Tunggang Parangan berencana berdakwah bareng rekannya, Datuk Ri Bandang, di Sulawesi Selatan. Namun, karena ada situasi darurat di Makassar, mereka terpaksa “bagi tugas”.
Tuan Tunggang Parangan pun memutuskan melakukan misi solo. Beliau menyeberangi Selat Makassar sendirian demi menuju Pelabuhan Kutai Lama. Di sana, beliau disambut hangat oleh Raja Makota. Tanpa ada paksaan atau ketegangan, sang Raja jatuh hati pada ajaran baru yang dibawa sang ulama karena karakternya yang lembut dan cerdas.
Bukti Pergeseran Budaya
Efek dakwah Tuan Tunggang Parangan langsung terasa pada kultur kerajaan. Salah satu buktinya adalah mulai digunakannya nama-nama bernuansa Islami untuk para putra mahkota, seperti Maharaja Sultan dan Raja Mandarsyah. Inilah titik balik peradaban di tepian Sungai Mahakam yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.
Revitalisasi Makam Jadi Destinasi Hits Religi
Menyadari besarnya jasa sang ulama, pemerintah daerah nggak mau tinggal diam. Saat ini, kompleks makam Tuan Tunggang Parangan sedang dipugar dengan anggaran mencapai Rp1 miliar.
Proyek revitalisasi ini punya visi besar:
- Wisata Religi: Tempat ziarah yang lebih nyaman bagi jemaah.
- Wisata Budaya & Sejarah: Menjadikannya destinasi edukasi bagi anak muda untuk mengenal akar sejarah Kaltim.
- Integrasi Kawasan: Menjadikan situs ini sebagai pusat wisata sejarah yang terintegrasi utuh.
“Restorasi ini adalah bentuk penghargaan atas jasa beliau dalam membangun fondasi religi di Tanah Borneo,” tutup Sarip. (ant/one)