Jejak Masjid Shirathal Mustaqiem: Dari Pusat “Sarang Maksiat” Jadi Ikon Religi Tertua di Samarinda
Samarinda, nusaetamnews.com : Siapa sangka, kawasan Kelurahan Mesjid di Samarinda Seberang yang kini adem dengan lantunan ayat suci, dulunya adalah “zona merah” yang pekat dengan perjudian dan sabung ayam. Adalah Masjid Shirathal Mustaqiem, sebuah monumen bersejarah yang menjadi saksi bisu transformasi total peradaban di Kota Tepian.
Masjid tertua di Samarinda ini bukan sekadar bangunan kayu biasa. Ia adalah narator hebat tentang bagaimana sebuah “kampung maksiat” berhasil move on menjadi pusat adab dan spiritualitas berkat sosok ulama karismatik asal Pontianak, Said Abdurachman bin Assegaf.
The Origin Story: Misi Dagang Jadi Panggilan Jiwa
Pada penghujung abad ke-19, Said Abdurachman—seorang saudagar keturunan Arab sekaligus bangsawan—berlabuh di Samarinda Seberang murni untuk berniaga. Namun, mata batinnya terusik melihat realitas masyarakat setempat yang larut dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi.
“Tempat ini dulunya denyut nadinya adalah judi dan maksiat. Said Abdurachman memutuskan menetap bukan lagi untuk berdagang, tapi untuk syiar Islam,” ujar Mazbar, Ketua Pokdarwis Masjid Shirathal Mustaqiem, Minggu (22/2).
“Pangeran Bendahara” dan Diplomasi Hati
Alih-alih menggunakan kekerasan, Said Abdurachman menggunakan pendekatan humanis untuk melunakkan hati warga. Strategi “dakwah chill” ini sukses besar. Para pelaku maksiat perlahan meninggalkan arena sabung ayam dan mulai duduk bersila mendengarkan petuahnya.
Saking berpengaruhnya, Sultan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman, sampai memberikan gelar kehormatan Pangeran Bendahara pada tahun 1880 dan mengangkatnya sebagai Kepala Adat dan Agama.
Menara 21 Meter di Atas Bekas Arena Judi
Pada tahun 1881, pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem dimulai. Menariknya, lokasi masjid ini dipilih tepat di atas lahan yang dulunya menjadi arena perjudian terbesar di sana—sebuah simbol “pembersihan” tanah maksiat menjadi tempat sujud.
Fakta Menarik Masjid Shirathal Mustaqiem:
- Usia: Lebih dari satu abad (Berdiri sejak 1881).
- Ikon: Menara segi delapan setinggi 21 meter yang masih berdiri kokoh.
- Status: Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.
Legacy yang Tak Padam
Meski zaman sudah berganti ke era digital, gema azan dari menara bersejarah ini tetap menjadi pengingat bagi warga Samarinda. Hikayat Pangeran Bendahara membuktikan bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari cahaya iman.
Kini, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi buat kamu yang ingin merasakan vibe sejarah Islam yang kental di Tanah Borneo. (ant/one)