Jejak Kemanusiaan dari Timur: Sepuluh Hari Relawan Kaltim Membalut Luka Aceh Tamiang
GEMURUH banjir bandang dan tanah longsor mungkin telah mereda, namun sisa lumpur setinggi betis masih menjadi pemandangan pilu di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka. Di tengah medan yang sulit itu, sekelompok orang berseragam oranye dan rompi medis tampak sibuk. Mereka bukan warga lokal, melainkan Tim Relawan Penanggulangan Bencana Provinsi Kalimantan Timur yang datang menempuh ribuan kilometer demi sebuah misi: Kemanusiaan.
Tepat pada 26 Desember 2025, sepuluh hari penugasan mereka resmi berakhir. Sejak mendarat pada 18 Desember, 37 personel gabungan dari BPBD, Dinas Sosial (Tagana), dan Dinas Kesehatan Kaltim telah menjadi napas bantuan di Kecamatan Manyak Payed dan sekitarnya.

Dapur Umum: Denyut Jantung di Tengah Keterbatasan
Di halaman Kantor Bupati Aceh Tamiang, asap mengepul dari kuali raksasa sejak fajar menyingsing. Inilah pusat operasi Tim Tagana. Tugas mereka berat: memastikan perut ribuan pengungsi dan relawan tidak kosong.

“Ini pengalaman luar biasa. Kami tidak hanya memberi makan, kami memberi energi untuk mereka bertahan,” ujar salah satu anggota tim. Meski harus berhadapan dengan aliran air PDAM yang mati dan debu tebal saat cuaca panas, mereka berhasil mengubah keterbatasan menjadi ribuan bungkus nasi siap saji setiap harinya.
Perjuangan Medis dan “Pertempuran” Melawan Medan
Bagi tim medis, tantangannya berbeda. Mereka tidak hanya melawan penyakit pascabencana seperti gatal-gatal atau ISPA, tetapi juga melawan waktu dan medan yang hancur.
“Akses ke lokasi seperti Desa Babo itu sangat jauh, perjalanan bisa berjam-jam dengan kondisi jalan rusak parah,” ungkap laporan tim medis. Di sana, mereka memberikan layanan triase, pengobatan dasar bagi lansia, hingga pemeriksaan ibu hamil.
Meski sempat terkendala mobilitas dan koordinasi transportasi di awal, dedikasi tim tidak surut. Mereka bahkan mengusulkan perbaikan sistem kedepannya, seperti pengadaan kendaraan medis mandiri yang lebih mumpuni agar pelayanan tidak terhambat oleh keterlambatan teknis di lapangan.

BPBD: Garda Depan di Balik Lumpur Pekat
Sementara itu, personel BPBD Kaltim bergerak di garis paling depan. Tugas mereka mulai dari evakuasi warga hingga instalasi filterisasi air bersih—sesuatu yang sangat krusial mengingat air bersih adalah “barang mewah” pascabencana.
“Lumpur masih sangat tebal, itu menyulitkan pergerakan tim,” tulis mereka dalam evaluasinya. Namun, ada rasa bangga yang terselip. BPBD berhasil menjalankan fungsi pendampingan yang membuat tim medis dan dapur umum bisa bekerja maksimal.
Refleksi dan Kepulangan
Kepulangan tim ini dilepas dengan rasa haru oleh Sekretaris Daerah Aceh Tamiang, Syaibun Anwar. Ucapan terima kasih tak terhingga disampaikan atas kehadiran Kaltim di saat aparatur daerah sendiri pun tengah lumpuh terdampak bencana.
Meski misi ini dinyatakan selesai dan sesuai rencana, Tim Kaltim meninggalkan beberapa catatan penting untuk misi masa depan:
- Kesehatan Relawan: Pentingnya surat keterangan sehat dan cek kesehatan harian karena cuaca yang ekstrem.
- Kematangan Perencanaan: Fleksibilitas di lapangan penting, namun perencanaan awal yang matang adalah kunci.
- Fasilitas Penunjang: Kebutuhan akan akses air bersih dan alat pelindung diri (masker) saat area mulai mengering dan berdebu.
Sepuluh hari di Aceh Tamiang bukan sekadar menjalankan tugas operasional. Bagi ke-37 relawan ini, ini adalah tentang solidaritas lintas pulau. Mereka pulang membawa cerita tentang ketangguhan warga Aceh, dan meninggalkan harapan bahwa Aceh Tamiang akan segera pulih dan bangkit kembali. (ray)