Subscribe

Jalan Tambang Berau Coal Direkayasa: Trase Lebih Panjang, Tapi Waktu Tempuh Malah Makin Sat-Set!

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur baru saja melakukan inspeksi mendadak ke proyek pengalihan jalan vital di area PT Berau Coal. Proyek pengalihan jalur Gurimbang-Talisayan ini menjadi sorotan karena adanya perubahan desain yang cukup signifikan demi mengejar efisiensi logistik.

Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, bersama Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, turun langsung ke lapangan untuk memastikan proyek ini nggak cuma soal infrastruktur, tapi juga soal keselamatan kerja (K3).

“Kunjungan ini bertujuan meninjau progres pembangunan agar tetap mengutamakan aspek keselamatan serta efisiensi operasional,” ujar Bambang di Samarinda, Kamis (19/2/2026).

Trase Memanjang, Geometri Menang

Ada anomali menarik dalam proyek ini. Panjang jalan yang awalnya direncanakan hanya 4,7 kilometer, kini “melar” menjadi 7,6 kilometer. Secara logika, jalan lebih panjang harusnya bikin waktu tempuh lebih lama, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Tim teknis melakukan rekayasa geometri jalan agar jalur baru ini jauh lebih lurus dan landai. Jalur lama yang penuh dengan tikungan tajam dan tanjakan curam resmi ditinggalkan.

  • Dulu: Tikungan tajam, tanjakan curam, mesin kerja keras, waktu tempuh 9,6 menit.
  • Sekarang: Desain landai dan lurus, ritme kendaraan stabil, waktu tempuh terpangkas jadi 9 menit pas!

Komparasi Jalur Gurimbang-Talisayan

Parameter Jalur Lama (Planning) Jalur Baru (Aktual)
Panjang Trase 4,7 KM 7,6 KM
Waktu Tempuh 9,6 Menit 9 Menit
Lebar Bahu Jalan 2 Meter 2,5 Meter
Karakteristik Berkelok & Curam Lurus & Landai

Upgrade Spesifikasi: Fokus ke ‘Emergency Room’

Nggak cuma soal kecepatan, standar keamanan juga ditingkatkan. Lebar bahu jalan yang tadinya hanya 2 meter, kini diperlebar menjadi 2,5 meter. Penambahan ini krusial untuk memberikan ruang manuver jika terjadi situasi darurat di lapangan.

Sementara itu, lebar badan jalan utama tetap dijaga di angka 7 meter—ukuran yang dinilai masih sangat ideal untuk lalu lintas dua arah kendaraan berat (HD).

“Peningkatan spesifikasi infrastruktur ini diharapkan mampu memberikan tingkat kenyamanan berkendara yang lebih optimal bagi seluruh pengemudi unit operasional,” pungkas Bambang. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *