Iran Tegaskan Tidak meluncurkan Rudal Selama ‘Gencatan Senjata’ , Trump Ancam ‘Hukum’ NATO
Moskow, nusaetamnews.com : Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan resmi terkait situasi terkini pasca-kesepakatan damai sementara dengan Washington. IRGC menegaskan bahwa pihak Teheran sama sekali tidak meluncurkan serangan rudal ke negara mana pun sejak periode gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) dimulai.
Klarifikasi ini muncul sebagai respons atas berbagai rumor serangan yang beredar di kawasan Timur Tengah di tengah suasana diplomasi yang masih “dingin”.
Tuding ‘Musuh’ Jadi Dalang Disinformasi
Pihak IRGC memastikan bahwa komitmen untuk menahan diri masih dipegang teguh oleh pasukan Iran. Jika ada laporan mengenai aktivitas serangan drone atau pesawat tak berawak, IRGC mengeklaim hal tersebut sebagai upaya provokasi pihak luar.
“(Pasukan Iran) belum meluncurkan rudal apa pun ke negara mana pun selama jam-jam gencatan senjata hingga saat ini,” bunyi pernyataan IRGC yang dikutip via Al Jazeera, Jumat (10/4).
IRGC menambahkan bahwa setiap laporan serangan drone yang mencatut nama Iran tidak diragukan lagi merupakan ulah dari “musuh Zionis” atau pihak Amerika yang ingin mengacaukan situasi.
Optimisme di Meja Perundingan Islamabad
Di sisi lain, jalur diplomasi terus diupayakan melalui mediator di Pakistan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan harapannya agar AS memiliki itikad baik yang sama dalam negosiasi ini.
Poin Penting Kesepakatan Trump-Iran:
- Durasi: Gencatan senjata bilateral berlaku selama dua pekan sejak Selasa (7/4).
- Urat Nadi Ekonomi: Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas energi global.
- Diplomasi: Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah memulai pembicaraan dengan delegasi AS di Islamabad, Pakistan, sejak Jumat kemarin.
Israel Tetap Gaspol di Lebanon
Meski suhu antara Teheran dan Washington mulai mendingin, situasi berbeda terjadi di Lebanon Selatan. Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan udara dan artileri di wilayah Tyre dan belasan permukiman lainnya pada Rabu (8/4) lalu.
Presiden Donald Trump sendiri telah menegaskan bahwa agresi Israel di Lebanon tidak termasuk dalam “paket” perjanjian gencatan senjata yang ia sepakati dengan Iran. Hal ini terjadi karena AS masih menempatkan Hizbullah sebagai faktor pengecualian dalam upaya de-eskalasi tersebut.
Status Quo: Saat ini, mata dunia tertuju pada hasil perundingan di Islamabad. Keberhasilan negosiasi di Pakistan akan menentukan apakah gencatan senjata dua pekan ini akan permanen atau hanya menjadi “jeda sesaat” sebelum konflik kembali pecah.
Berikut adalah penyempurnaan teks tersebut dengan format Hard News yang tajam, provokatif, dan menggunakan gaya bahasa Jurnalistik Milenial yang dinamis:
Trump Meledak! Ancam ‘Hukum’ Sekutu NATO yang Blokir Akses Militer AS
Sementara itu,Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan naik pitam setelah sejumlah negara sekutu NATO membatasi akses militer AS ke pangkalan mereka. Kemarahan ini meledak di tengah operasi militer Washington terhadap Iran yang kian memanas.
Laporan Financial Times, Jumat (10/4), menyebutkan bahwa Trump secara terang-terangan mengancam akan menjatuhkan “hukuman” bagi negara-negara Eropa yang dianggap tidak loyal.
Prancis & Spanyol Jadi Sasaran Tembak
Dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, tensi pembicaraan dilaporkan mendidih saat membahas sikap Prancis dan Spanyol. Trump menilai kedua negara tersebut tidak memberikan dukungan yang pantas bagi manuver militer AS di Timur Tengah.
- Poin Kemarahan: Pembatasan akses pangkalan militer bagi pasukan AS.
- Status Ancaman: Trump belum merinci langkah konkret, namun sinyal “hukuman” ekonomi atau diplomatik mulai menguat.
- Respons NATO: Sekjen Mark Rutte dilaporkan hanya bisa “memahami” kekecewaan Trump dalam pertemuan yang berlangsung Rabu (8/4) tersebut.
Sebut NATO Aliansi ‘Satu Arah’
Lewat platform miliknya, Truth Social, Trump meluapkan keraguannya terhadap solidaritas aliansi pertahanan terbesar di dunia itu. Ia merasa AS selama ini berjuang sendiri tanpa dukungan timbal balik yang setara.
“NATO telah membuat kesalahan yang sangat bodoh dengan tidak mendukung AS dalam operasi melawan Iran,” tulis Trump, Kamis (9/4).
Ia bahkan menyebut NATO sebagai aliansi “satu arah”—di mana AS selalu pasang badan, namun para sekutu justru balik badan saat Washington meminta bantuan. Trump mengaku tidak terkejut dengan sikap mayoritas negara NATO yang enggan terlibat dalam perang melawan Teheran.
Sentilan Keras dari Gedung Putih
Kritik Trump terhadap NATO sebenarnya bukan barang baru, namun kali ini konteksnya jauh lebih serius karena melibatkan operasi militer aktif.
Kilas Balik Ketegangan:
- 17 Maret: Trump menyebut penolakan NATO sebagai blunder besar.
- 8 April: Pertemuan dengan Mark Rutte gagal mencairkan suasana.
- Visi Trump: Ia menginginkan NATO tidak hanya fokus pada pertahanan Eropa, tetapi juga menyokong penuh kepentingan AS di zona konflik global.
Dengan ancaman yang kini berada di meja, hubungan trans-atlantik antara AS dan Eropa berada di titik nadir. Dunia kini menanti, apakah “hukuman” yang dimaksud Trump akan memicu keretakan permanen di dalam tubuh NATO? (ant/one)