Iran ‘Gembok’ Selat Hormuz, Timur Tengah Membara
Beirut, nusaetamnews.com : Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) nggak main-main dalam merespons ketegangan di kawasan. Brigadir Jenderal IRGC, Ibrahim Jabari, resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/2).
Langkah ekstrem ini diambil sebagai jawaban langsung atas agresi militer yang menyasar wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.
“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” tegas Jabari dalam wawancaranya dengan Al-Mayadeen.
Kenapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Bagi yang belum tahu, Selat Hormuz adalah “keran” minyak dunia. Kalau jalur ini ditutup, distribusi energi global bisa macet total dan harga BBM dunia berpotensi melonjak drastis. Ini adalah langkah high-stakes dari Iran untuk menekan lawan-lawannya.
Kronologi “Saling Balas” yang Memanas:
- Serangan Udara: AS dan Israel meluncurkan serangkaian serangan ke target-target di Iran. Sayangnya, serangan ini dilaporkan memakan korban sipil dan merusak infrastruktur.
- Rudal Balasan: Iran nggak tinggal diam. Mereka langsung mengirim “paket” rudal ke wilayah Israel dan mengincar pangkalan militer AS di Timur Tengah.
- Salah Perhitungan: Pihak IRGC menyebut Israel telah melakukan “salah perhitungan” besar dengan berani menyenggol kedaulatan Iran.
Kondisi di Dalam Negeri Iran
Efek serangan ini mulai terasa di kehidupan sehari-hari warga Iran. Berdasarkan laporan kantor berita ISNA:
- Sekolah Tutup: Kementerian Pendidikan Iran memutuskan untuk meliburkan sekolah.
- Sekolah Daring: Untuk sementara, aktivitas belajar mengajar dialihkan ke sistem online (daring) demi keamanan siswa di tengah situasi yang belum kondusif.
Timur Tengah Membara
Sementaraitu, Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang makin mengkhawatirkan. Kerajaan Arab Saudi secara blak-blakan melayangkan kecaman keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai “agresi terang-terangan” dari Iran.
Lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri di platform X, Sabtu (28/2), Riyadh nggak cuma sekadar mengutuk, tapi juga menyatakan solidaritas penuh buat negara-negara tetangga yang kedaulatannya merasa terancam.
“Kerajaan menegaskan dukungan tak tergoyahkan kepada negara-negara saudara, serta siap mengerahkan seluruh kemampuan untuk mendukung langkah apa pun yang mereka ambil,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Siapa Saja yang Jadi Sorotan?
Arab Saudi menyoroti adanya pelanggaran kedaulatan yang menyasar sejumlah negara di kawasan, antara lain:
- Uni Emirat Arab (UEA)
- Bahrain
- Qatar
- Kuwait
- Yordania
Saudi memperingatkan bahwa jika pelanggaran hukum internasional ini terus berlanjut, konsekuensinya bakal sangat serius bagi stabilitas global.
Kronologi “Saling Balas” yang Makin Runyam
Situasi ini sebenarnya adalah puncak dari rentetan kejadian panas dalam beberapa waktu terakhir:
- Gagalnya Diplomasi: AS dan Iran sempat menggelar tiga putaran perundingan nuklir lewat mediator Oman, tapi sepertinya hasilnya buntu.
- Serangan Udara: Sabtu dini hari, Israel dan AS (di bawah pemerintahan Donald Trump) meluncurkan serangan ke Iran. Ini adalah serangan kedua setelah kejadian serupa pada Juni 2025.
- Counter-Attack Iran: Iran nggak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah.
Seruan untuk Dunia
Arab Saudi kini mendesak komunitas internasional untuk nggak cuma jadi penonton. Mereka meminta langkah tegas diambil guna membendung aksi Iran yang dianggap merongrong keamanan kawasan.
Bagi Riyadh, stabilitas adalah harga mati, dan mereka siap pasang badan buat para sekutunya. (ant/one)