Subscribe

Inflasi Kaltim 2025 Lebih “Adem” dari Nasional, Strategi 4K Jadi Kunci Jaga Dompet Rakyat!

2 minutes read

SAMARINDA, nusaetamnews.com : Menutup tahun 2025, Kalimantan Timur (Kaltim) sukses membuktikan diri sebagai provinsi yang tangguh dalam menjaga stabilitas harga. Berkat strategi “keroyokan” bernama 4K, inflasi di Bumi Etam tetap terkendali dan bahkan tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

Wakil Ketua I TPID Kaltim yang juga Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa fokus utama sepanjang 2026 tetap pada kelancaran distribusi bahan pokok. Tujuannya jelas: biar daya beli masyarakat nggak “anjlok” gara-gara harga selangit.

“Strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) ini kunci untuk dukung pertumbuhan ekonomi Kaltim yang tinggi dan berkelanjutan,” ujar Budi di Samarinda, Selasa (6/1).

Snapshot Angka: Kaltim vs Nasional

Meskipun momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya bikin harga-harga “panas”, rapor Kaltim ternyata cukup memuaskan:

  • Inflasi Tahunan (yoy) Kaltim: 2,68%
  • Inflasi Tahunan (yoy) Nasional: 2,92%
  • Inflasi Bulanan (mtm) Desember: 0,71%

FYI, meskipun inflasi Desember sedikit naik dari bulan sebelumnya (0,41%), Kaltim masih berada di jalur yang aman.

Apa yang Bikin Harga Naik?

Gak bisa dimungkiri, cuaca dan musim liburan jadi pemicu utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar (0,47% mtm). Curah hujan tinggi dan gelombang laut yang besar bikin pasokan sayur serta ikan jadi terbatas.

Ditambah lagi, sektor transportasi juga ikut menyumbang inflasi (0,21% mtm) karena banyak warga yang traveling saat libur akhir tahun. Untungnya, kenaikan ini sedikit “direm” oleh kelompok pakaian dan alas kaki yang justru mengalami deflasi atau penurunan harga.

Jurus “Gerakan Pangan Murah”

TPID Kaltim gak tinggal diam cuma liat angka. Sepanjang Desember 2025 saja, sudah dilakukan 24 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai pelosok kabupaten/kota.

Selain pasar murah, penyaluran beras SPHP terus digeber untuk memastikan warga tetap bisa makan nasi tanpa pusing mikirin harga. Upaya ini juga diperkuat lewat Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang makin masif.

“Intinya, kita pastikan stok aman dan harga tetap terjangkau buat masyarakat,” pungkas Budi. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *