Indonesia Siap Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza: Komitmen Prabowo di Forum Dunia
WASHINGTON DC, nusaetamnews.com : Indonesia kembali menunjukkan taji di panggung diplomasi internasional. Presiden RI Prabowo Subianto secara tegas menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirimkan sedikitnya 8.000 personel pasukan perdamaian guna mendukung stabilitas di Gaza, Palestina.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Prabowo dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis waktu setempat. Forum bergengsi ini juga dihadiri oleh Presiden AS Donald Trump serta para pemimpin dunia lainnya.
“Commitment for Peace”
Prabowo menegaskan bahwa pencapaian gencatan senjata saat ini adalah langkah nyata yang harus dikawal serius. Indonesia nggak mau sekadar jadi penonton.
“Kami menegaskan kembali komitmen untuk menyumbangkan jumlah pasukan yang signifikan, hingga 8.000 personel atau lebih jika memang diperlukan,” ujar Presiden Prabowo, yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube White House, Jumat dini hari WIB.
Ribuan personel ini nantinya akan bergabung dalam International Stabilization Force (ISF), sebuah pasukan stabilitas internasional yang bertugas menjaga perdamaian di lapangan.
Strategi & Optimisme di Tengah Hambatan
Presiden Prabowo mengakui bahwa jalan menuju perdamaian abadi di Gaza nggak akan mudah. Namun, Indonesia memilih untuk tetap optimistis dan mendukung penuh inisiasi perdamaian yang ada.
Poin-poin penting komitmen Indonesia di Board of Peace:
- Dukungan Penuh: Indonesia sepakat dan berkomitmen pada rencana perdamaian yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump.
- Mandat PBB: Kehadiran Indonesia di BoP selaras dengan mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 (2025).
- Solusi Dua Negara: Indonesia tetap fokus pada rekonstruksi jangka panjang Gaza dengan tetap menghormati visi Two-State Solution (Solusi Dua Negara).
Apa itu ISF dan BoP?
Keikutsertaan Indonesia dalam BoP dan ISF adalah mekanisme internasional transisional. Artinya, pasukan Indonesia akan bekerja berdasarkan parameter operasional yang disepakati secara global, namun tetap sesuai dengan national caveats (batasan nasional) dan hukum internasional.
“Kami tahu akan ada banyak hambatan dan kesulitan, tetapi kami sangat optimistis,” tegas Prabowo menutup sambutannya. (ant/one)