Indonesia Darurat Bunuh Diri Anak: Angkanya Tertinggi di Asia Tenggara!
Jakarta, nusaetamnews.com : Kabar duka kembali datang dari dunia anak Indonesia, dan kali ini angkanya benar-benar bikin kita terhenyak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru saja merilis data yang menyebutkan bahwa angka kasus anak mengakhiri hidup di tanah air merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.
Bukan sekadar statistik, ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa kondisi mental anak-anak Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Tren yang Mengkhawatirkan
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, mengungkapkan bahwa tren ini sudah sangat mengkhawatirkan sejak beberapa tahun terakhir. Coba intip datanya:
- 2023: 46 anak
- 2024: 43 anak
- 2025: 26 anak
- Awal 2026: Sudah ada 3 kasus.
“Ini nggak bisa kita anggap biasa atau dinormalisasi. Secara garis besar, Indonesia lagi masuk kondisi darurat anak mengakhiri hidup,” tegas Diyah saat dihubungi di Jakarta, Rabu (5/2).
Tragedi di Ngada dan Pola yang Berulang
Isu ini kembali mencuat setelah kasus pilu menimpa seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak tersebut nekat mengakhiri hidup dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.
Kisah di baliknya pun menyayat hati: Sang ibu adalah orang tua tunggal yang berjuang menghidupi lima orang anak dengan bekerja sebagai buruh serabutan dan petani. Kejadian serupa juga pernah terjadi di Kebumen pada 2023, di mana seorang anak menceburkan diri ke sungai hanya karena masalah ekonomi keluarga yang sangat menghimpit.
Apa Sih Pemicunya?
Jangan kira masalah anak itu sepele. KPAI mencatat ada beberapa faktor utama yang bikin anak-anak merasa kehilangan harapan:
- Bullying (Perundungan): Masih jadi faktor nomor satu.
- Pola Pengasuhan & Ekonomi: Tekanan di rumah dan kesulitan finansial keluarga.
- Dunia Digital & Asmara: Dampak negatif game online dan konflik percintaan di usia dini.
“Masyarakat jangan anggap remeh. Kasus anak SD yang mengakhiri hidup itu nyata dan ada setiap tahunnya,” tambah Diyah.
Kematian anak-anak ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi bukti nyata adanya support system yang gagal. Mulai dari lingkungan rumah, sekolah, hingga media sosial, semua punya peran besar untuk mencegah tragedi ini terulang kembali. (Ant/one)