Hustle di Tengah Hutan: Warga Kukar Cuan Maksimal Lewat Perhutanan Sosial!
Tenggarong, nusaetamnes : Siapa bilang jaga hutan cuma soal pohon? Di Kutai Kartanegara (Kukar), menjaga kelestarian alam justru jadi mesin pendulang cuan. Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim bareng Pemkab Kukar lagi gencar-gencarnya berkolaborasi lewat program Perhutanan Sosial. Hasilnya? Ekonomi warga meroket, tapi hutan tetap sustainable.
Komoditas High-Value dari Jantung Rimba
Nggak main-main, produk yang dihasilkan kelompok perhutanan sosial di sini punya nilai jual tinggi. Bukan kayu yang ditebang, melainkan hasil hutan non-kayu yang jadi bintangnya.
- Food & Beverage: Madu murni, gula aren, pisang, hingga cokelat premium.
- Seafood & Olahan: Kepiting bakau, udang windu, serta kerupuk ikan khas Delta Mahakam.
- Craft: Lidi nipah dan aneka anyaman estetik.
“Selain produk fisik, potensi ekowisata dan jasa lingkungan juga lagi kita dorong. Ini peluang besar buat ningkatin kesejahteraan sekaligus jaga ekosistem mangrove kita,” ujar Plt. Kepala Dishut Kaltim, Mohamad Subiantoro, di Tenggarong, Sabtu (7/3/2026).
Skala Besar: 81 Ribu Hektare untuk Rakyat
Saat ini, sudah ada 62 persetujuan perhutanan sosial yang melibatkan sekitar 2.119 kepala keluarga di Kukar. Total lahan yang dikelola mencapai 81.487,3 hektare. Lahan seluas ini tersebar di beberapa titik strategis, mulai dari KPH Delta Mahakam hingga Sub-DAS Belayan.
Secara teknis, ada dua skema yang mendominasi:
- Hutan Kemasyarakatan: Paling banyak dari jumlah persetujuan.
- Hutan Desa: Juara dari sisi luas wilayah pengelolaan.
Bupati Kukar: Kolaborasi adalah Kunci
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyambut baik progres ini. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mitra pembangunan adalah resep sukses buat bikin warga mandiri secara ekonomi tanpa harus merusak alam.
“Semoga makin optimal. Dampaknya bukan cuma buat dompet warga Kukar, tapi juga buat paru-paru dunia,” pungkasnya optimis. (ant/one
Lawan Inflasi Pake AI, Kaltim Andalkan Aplikasi “Mandau” Biar Harga Pangan Gak Flexing
Samarinda – Kalimantan Timur makin serius pamer teknologi buat jaga isi dompet warganya. Lewat aplikasi Mandau (Mekanisme Pengendalian Komoditas Utama), Pemprov Kaltim bareng Bank Indonesia (BI) resmi mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) buat memantau rantai pasok pangan secara real-time.
Bukan sekadar aplikasi biasa, Mandau jadi “senjata digital” buat memonitor ketersediaan stok di gudang, jalur distribusi, hingga fluktuasi harga di pasar. Hasilnya? Kebijakan pengendalian inflasi jadi lebih responsif dan nggak tebak-tebakan karena berbasis data akurat.
Pantau Harga Semudah Scrolling Media Sosial
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menyebut kalau aplikasi ini bikin kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) makin sat-set. Pantauan dilakukan harian dan mingguan, jadi ketahuan banget mana komoditas yang lagi “adem ayu” atau yang harganya mulai “naik darah” (inflasi).
“Berkat bantuan AI, kita bisa menganalisa andil per komoditas sampai bikin prakiraan harga ke depannya. Jadi, kita bisa gerak lebih cepat sebelum harga melonjak,” ujar Jajang di Samarinda, Sabtu (7/3/2026).
Strategi “4K” dan Digitalisasi Total
Nggak cuma soal AI, BI Kaltim juga baru saja menggelar High Level Meeting bareng TPID dan Tim Percepatan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Fokusnya ada pada Strategi 4K:
- Ketersediaan pasokan.
- Keterjangkauan harga.
- Kelancaran distribusi.
- Komunikasi efektif.
Transaksi Cashless Jadi Budaya Baru
Selain urusan perut, Kaltim juga lagi gaspol transformasi digital lewat ekosistem pembayaran non-tunai. Penggunaan QRIS dan Kartu Kredit Indonesia (KKI) terus diperluas buat urusan transaksi pemerintah daerah.
“Tren digitalisasi di Kaltim positif banget. Transaksi non-tunai naik signifikan, yang artinya tata kelola keuangan kita makin transparan dan efisien,” tambah Jajang.
Singkatnya, Kaltim lagi nyiapin fondasi kuat menuju “Generasi Emas” dengan cara memastikan perut warga aman dan sistem keuangan daerah makin modern. (ant/one)