Hidden Paradise! Kolaborasi Unmul, BRIN, & YKAN Temukan 1.618 Spesies di Jantung Kaltim
SAMARINDA, nusaetamnews.com : Kabar baik datang dari “paru-paru” Kalimantan Timur. Di tengah isu degradasi lahan, sebuah riset kolaboratif antara Universitas Mulawarman (Unmul), BRIN, dan YKAN justru menemukan fakta mencengangkan: ada ribuan jenis flora dan fauna yang hidup subur di Bentang Alam Wehea-Kelay.
Total ada 1.618 spesies yang berhasil diidentifikasi. Angka ini naik drastis dibanding riset serupa tahun 2016 yang mencatat 1.343 jenis. Artinya, ada 275 spesies baru yang berhasil didata dalam satu dekade terakhir!
Bukan Sekadar Hutan Biasa
Bentang alam seluas 532.143 hektare ini punya status yang unik. Ternyata, hanya 19% dari kawasan ini yang berstatus hutan lindung. Sisanya? Masuk dalam area konsesi kehutanan, perkebunan, hingga lahan kelola warga.
“Temuan ini membuktikan bahwa pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan banyak pihak bisa tetap melindungi hutan dari ancaman kerusakan,” kata Rektor Unmul, Prof. Abdunnur, Rabu (21/1).
Siapa Saja “Penghuni” Wehea-Kelay?
Penelitian tematik biodiversitas tahun 2025 ini mendata keragaman yang bikin geleng-geleng kepala:
- 987 Jenis Tumbuhan Hutan (Bayangkan betapa rimbunnya!)
- 88 Jenis Serangga (Fokus pada kupu-kupu dan kumbang sungut).
- Presentase Satwa: 38% Mamalia terestrial, 47% jenis burung, 20% reptil, hingga 70% amfibi.
Paling keren, kawasan ini menjadi rumah aman bagi The Big Eight—delapan satwa langka yang statusnya terancam punah, mulai dari Orangutan Kalimantan, Lutung Kutai, hingga si misterius Kucing Merah.
Teknologi di Balik Penemuan
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa timnya tidak cuma jalan kaki menyusuri hutan, tapi juga dibantu teknologi canggih untuk memantau penghuni hutan yang pemalu:
- Kamera Jebak (Camera Trap): Untuk menangkap visual satwa yang jarang terlihat manusia.
- Bioakustik: Perekam suara untuk mendeteksi keberadaan burung dan amfibi lewat “nyanyian” mereka.
Penyokong Hidup Masyarakat Kaltim
Selain jadi surga satwa, Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengingatkan bahwa Wehea-Kelay adalah “tulang punggung” hidrologis. Kawasan ini merupakan hulu dari Sungai Mahakam dan Sungai Segah yang mengalirkan air bersih bagi warga di Berau dan Kutai Timur.
“Kawasan ini memberikan jasa lingkungan nyata, mulai dari fungsi air hingga udara bersih bagi kita semua,” tambah Herlina. (ant/one)