Subscribe

HATI-HATI! Curhat ke AI Bisa Bikin Pengguna ‘Kehilangan Arah Emosional’

2 minutes read

Nusaetamnews.com : Gawat! Terlalu sering ‘spill the tea’ alias curhat ke Artificial Intelligence (AI) ternyata punya risiko psikologis yang enggak main-main. Kenapa? Karena respons dari robot itu jelas enggak ada sisi kemanusiaannya.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Psikolog Klinis Nena Mawar Sari. Menurutnya, curhat ke AI itu cuma kayak pantulan atau feedback dari kode yang kita kasih.

“Tentu hasil atau feedback yang diberikan tidak ada unsur-unsur humanisnya,” kata Psikolog Klinis RSUD Wangaya Kota Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari, kepada ANTARA via pesan suara, Jumat.

Guys, kalau lagi curhat, kita butuh banget feedback yang nyambung dan konstan, kan? Nah, kalau AI yang kasih respons dingin dan tanpa unsur humanis, bahayanya bisa bikin kita salah interpretasi dan parahnya, kehilangan arah emosional.

Nena bilang, AI memang sifatnya memvalidasi perasaan dan memantulkan apa yang kita butuhkan. But, yang dikhawatirkan adalah ketika orang lagi di momen depresi atau impulsif, respons AI itu malah dianggap sebagai “acuan yang baku atau realistis.”

“Dikhawatirkan salah interpretasi, dan tidak ada sentuhan humanistiknya itu menyebabkan ‘beberapa kejadian-kejadian yang tidak diinginkan’,” tegas Nena. Duh, serem banget kan!

Tanda Fix Ketergantungan AI: Mulai ‘Antisosial’ dan Anti-Manusia!

Kalian udah ketergantungan emosional sama AI kalau muncul tanda-tanda ini:

  1. Mager Relasi dengan Manusia: Bye-bye interaksi sama orang lain!
  2. HP Jadi Teman Hidup: Dikit-dikit cek ponsel, bahkan hal detail pun ditanya ke AI.
  3. Mode Antisosial: Mulai menutup diri dan jadi antisosial.

Solusi Biar Enggak ‘Kecanduan’ AI: Cari The Real Manusia dan Journaling

Kalau lagi ngerasa kesepian atau enggak punya teman curhat, jangan stuck di AI!

Nena menyarankan untuk cari dukungan langsung ke ahlinya, seperti konselor, psikolog, atau psikiater.

Eits, kalau masih awkward ketemu mental health expert, coba deh journaling! Atau, cari satu atau dua orang terdekat yang kalian beneran percaya untuk dijadiin teman curhat. Enggak perlu banyak, yang penting genuine.

“Dan jika merasa tidak punya teman untuk curhat atau merasa tidak ada yang memahami yang dilakukan adalah lebih baik journaling atau mungkin bisa dengan orang-orang terdekat yang mungkin tidak perlu banyak, tapi cukup 1-2 orang yang dia bisa percaya,” tutup Nena.

So, guys, stay safe dan jangan sampai ‘baper’ sama robot, ya! (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *