Harmoni di Tepian Mahakam: Merawat Ingatan Pecinan dan Jejak Toleransi Benua Etam
TAK AKAN ada habisnya jikalau hidup dibatasi pada pagar etnis yang memenjarakan kehidupan sosial. Betapa kelam situasi bila menuruti ego etnosentris, sebagaimana gambaran mencekam dalam film “Pengepungan di Bukit Duri” karya Joko Anwar.
Kecamuk pikiran itulah yang menemani langkah saat menyusuri Jalan Yos Sudarso, Samarinda, tepat di depan pelabuhan terbesar “Kota Tepian”. Langkah kaki kemudian berbelok perlahan menuju kawasan Citra Niaga. Di sini, memori kota seolah diputar ulang.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, belakangan kerap mewacanakan revitalisasi kawasan ini menjadi Little Chinatown. Jauh sebelum Citra Niaga berdiri dengan segala riuh perniagaannya, kawasan ini adalah denyut nadi Pecinan Samarinda. Di sudut lain, aroma hio menyeruak lembut dari Kelenteng Thien Le Khong. Warna merah dan emasnya yang mencolok bukan simbol dominasi, melainkan napas harmoni yang merekam bagaimana etnis Tionghoa, Banjar, Kutai, dan Bugis hidup berdampingan tanpa sekat curiga selama berabad-abad.
Anomali Mei 1998: Luka yang Tak Sampai ke Mahakam
“Ketika membahas perihal Tionghoa di Indonesia, ingatan publik nyaris selalu tertuju pada sejarah rasialisme,” ujar Muhammad Sarip, sejarawan Kalimantan Timur, membuka percakapan.
Sarip menuturkan bahwa sejarah, setragis apa pun, tidak bisa dihapus. Luka menganga Mei 1998 di Jakarta dan Solo—di mana penjarahan dan kekerasan seksual menjadi noktah hitam—ternyata tidak merembet ke Kalimantan Timur. Di Samarinda dan Balikpapan, asap hitam tidak membubung dari toko-toko milik warga Tionghoa.
“Di Kaltim, saat itu warga Tionghoa relatif aman. Tidak tersentuh aksi destruktif,” kata Sarip. Ini adalah sebuah “anomali” menyejukkan. Potensi konflik tentu ada dalam setiap interaksi manusia, namun di Benua Etam, kompetisi tidak pernah berpretensi menjadi chaos berbasis rasial.
Dari Lo A Po hingga Kampung HBS
Benih toleransi ini rupanya sudah disemai jauh sebelum republik berdiri. Pada era Hindia Belanda, seorang tokoh Tionghoa bernama Lo A Po sukses mengoperasikan tambang batu bara di Loa Bukit melalui lahan yang disewa dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Hubungan mereka melampaui kontrak bisnis; terjadi akulturasi lewat pernikahan antara keluarga Lo A Po dengan kerabat Sultan. Saksi bisunya masih berdiri tegak hingga kini: Villa Annie, sebuah rumah klasik di Jalan Yos Sudarso yang menjadi monumen kemesraan hubungan Tionghoa dan aristokrat lokal.
Uniknya, saat Belanda menerapkan devide et impera (politik pecah belah), warga lokal Samarinda tidak merespons dengan kekerasan. Orang-orang Banjar justru menjawab tantangan ekonomi dengan mendirikan Handel-maatschaappij Borneo Samarinda (HBS).
“Jika publik mengenal Reino Barack sebagai suami Syahrini, dia adalah cucu dari Omar Barack, salah satu pendiri Kampung HBS,” ungkap Sarip. Kompetisi dagang terjadi secara ksatria, bukan dengan parang di jalanan.
Diplomasi “Kue Keminting” dan “Gabin Lido”
Jika politik sering kali memisahkan, maka perut justru menyatukan. Sarip menceritakan simbiosis indah antara Kue Keminting dan Toko Gabin Lido.
Kue Keminting adalah camilan khas Banjar yang diproduksi massal di bantaran Sungai Karang Mumus. Uniknya, kue-kue tanpa merek ini didrop secara curah ke Toko Gabin Lido milik warga Tionghoa di tepian Mahakam. Toko tersebut bertindak sebagai distributor utama.
“Terjadi kepercayaan penuh. Produsen Muslim Banjar percaya pada pedagang Tionghoa, dan Toko Gabin Lido menjadi etalase bagi karya kuliner tetangga mereka,” jelasnya. Di balik renyahnya keminting, terselip rasa saling percaya yang tidak bisa diruntuhkan propaganda politik mana pun.
Bunga Mei: Simbol Keteguhan di Dalam Rumah
Bagi generasi tua Tionghoa di Samarinda, seperti Hendra, Hermawan, dan Karmila, menjaga tradisi adalah cara menjaga identitas. Di era Orde Baru, saat budaya Tiongkok dilarang di ruang publik, mereka melakukan “domestikasi” tradisi.
Bunga Mei (Méihuā) dan Pohon Jeruk (Jīnjú) tetap hadir di ruang tamu secara sembunyi-sembunyi. Bunga Mei dipilih karena filosofinya: ia mekar pertama kali saat musim dingin yang berat, melambangkan keteguhan untuk tidak menyerah di tengah kesulitan. Sementara jeruk dipilih karena pelafalannya mirip dengan kata Jí yang berarti mujur.
Warisan yang Melampaui Bangunan
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga di permukaan Sungai Mahakam. Kedamaian di Kaltim bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari pola interaksi yang egaliter dan konsisten.
Revitalisasi Little Chinatown nantinya mungkin akan mengubah wajah fisik kota dengan gapura megah atau lampion merah. Namun, roh persaudaraan antara pembuat kue di Karang Mumus dan penjaga toko di tepian Mahakam adalah warisan yang jauh lebih berharga.
Itu adalah pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memanusiakan sesama, tanpa peduli dari mana nenek moyang mereka berasal. (ant/one)