Subscribe

Gen Z & Milenial Tahan Punya Anak: Goal Keluarga Idaman Terhambat Kantong Tipis!

2 minutes read

Laporan terbaru State of the World Population dari Badan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) mengungkap fenomena global yang mengejutkan: Jutaan orang membatasi jumlah anak yang mereka inginkan karena keterbatasan finansial. Ini adalah “krisis yang sebenarnya,” menurut Kepala UNFPA, Natalia Kanem.

Kisah Dian: Dari Tiga Anak Jadi Satu Anak Saja

Dian Dewi Purnamasari (36) di Jakarta adalah contoh nyata. Awalnya ia ingin dua atau tiga anak, tetapi setelah memiliki satu putri, keinginannya berubah drastis.

“Apalagi biaya hidup sekarang mahal, ya,” kata Dian. “Secara finansial sudah ngepas. Kami hidup dari gaji ke gaji, untuk menabung saja susah. Sepertinya enggak relevan untuk punya anak lagi.”

Pengalaman Dian yang tumbuh di desa dengan biaya hidup sederhana berbanding terbalik dengan kerasnya hidup di kota, di mana ia harus menyiapkan biaya kuliah sejak dini.

Survei Global: Keterbatasan Finansial Jadi Juara Alasan

Survei UNFPA terhadap 14.000 responden di 14 negara (termasuk 1.050 responden Indonesia) menemukan:

  • 1 dari 5 responden tidak memiliki, atau memperkirakan tidak akan memiliki, jumlah anak yang mereka inginkan.
  • Alasan Paling Umum (39%): Keterbatasan finansial (tertinggi di Korsel, 58%).
  • Alasan Kedua (21%): Kurangnya keamanan kerja atau pengangguran.

Temuan ini menunjukkan penurunan angka kelahiran global didorong oleh rasa “tidak mampu” mewujudkan keluarga ideal.

Faktor Penghambat Utama di Indonesia

Responden Indonesia menunjukkan bahwa faktor ekonomi mendominasi alasan mereka membatasi jumlah anak:

Kategori Faktor Persentase Responden Indonesia
Ekonomi Keterbatasan finansial 39%
Keterbatasan hunian (harga rumah/sewa tinggi) 22%
Kurangnya opsi perawatan anak yang layak 6%
Faktor Lain Kurangnya keterlibatan pasangan dalam pekerjaan rumah tangga/perawatan anak 16%
Perubahan Keinginan Keinginan untuk punya anak berubah seiring waktu 19%
Masa Depan Kekhawatiran akan situasi politik/sosial (perang, pandemi) 14%

Reaksi PBB: Jangan Panik!

Ahli demografi terkejut karena survei ini mencerminkan fenomena Eropa dalam skala global, bahkan banyak responden usia 50 tahun ke atas (31%) mengaku punya anak lebih sedikit dari yang diinginkan.

UNFPA menyerukan agar negara-negara tidak panik dan menghindari retorika bencana, baik soal overpopulasi maupun populasi menyusut.

“Ini mendorong respons berlebihan—terkadang respons manipulatif—yang bertujuan untuk memaksa perempuan punya lebih banyak anak, atau lebih sedikit anak,” tegas Kanem.

Merespons penurunan angka kelahiran dengan kebijakan nasionalis, anti-migran, dan konservatif terhadap gender dianggap sebagai reaksi negatif.

Dian sendiri menyimpulkan, selain finansial, faktor waktu juga penting. Dihadang kemacetan dan kewalahan fisik, ia khawatir tidak bisa fokus pada anak yang sudah ada. “Kasihan dia,” tutupnya, mengisyaratkan bahwa keputusan ini tidak akan berubah dalam waktu dekat. (BBC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *