Subscribe

Gawat! 27 Bahasa Daerah Kaltim-Kaltara Terancam Punah! Balai Bahasa Gercep Revitalisasi 5 Bahasa Prioritas

2 minutes read

SAMARINDA – Kekayaan budaya Kaltim dan Kaltara sedang menghadapi ancaman serius: kepunahan bahasa daerah! Balai Bahasa Provinsi Kaltim all-out melindungi kekayaan intelektual komunal ini dengan memperkuat program revitalisasi di tahun 2025.

Kepala Balai Bahasa Kaltim, Asep Juanda, mengungkapkan kekhawatiran besar. “Dari bahasa daerah yang teridentifikasi di Kaltim dan Kaltara, sebagian besar mengalami penurunan fungsi dan jumlah penutur,” kata Asep di Samarinda, Kamis (13/11).

Total ada 27 bahasa daerah yang terdata di wilayah kerja Balai Bahasa Kaltim (16 di Kaltim dan 11 di Kaltara).

5 Bahasa Prioritas yang Diselamatkan

Tahun ini, program prioritas revitalisasi langsung menyasar lima bahasa utama:

Wilayah Bahasa Prioritas
Kaltim Bahasa Melayu Kutai, Paser, dan Kenyah
Kaltara Bahasa Tidung dan Bulungan

Status Merah: Generasi Muda Off

Asep menyoroti beberapa bahasa yang sudah masuk kategori rawan dan benar-benar terancam punah dalam waktu dekat jika tidak ada intervensi serius: Punan Merah, Dusun, Segaai, Tunjung, Basap, dan Punan Long Lamcin.

Kondisi rawan ini ditandai oleh fenomena hilangnya generasi penutur muda yang sudah tidak menggunakan bahasa ibu lagi dalam keseharian.

Fakta Kritis: Bahasa Punan Merah (Mahakam Ulu) dan Bahasa Dusun (Paser) kini hanya digunakan di satu kampung, dengan penutur aktif didominasi kelompok usia lanjut! Data SIL mencatat penutur bahasa yang terancam punah ini tidak mencapai seribu orang.

Para penutur bahasa Dayak yang terancam punah (Punan Merah, Dusun, dan Tunjung) kini hanya tersisa sebagian kecil masyarakat yang bermukim di Mahakam Ulu, Paser, dan Kutai Barat.

Strategi Nyelamatin Bahasa

Balai Bahasa merespons tantangan ini dengan memperkuat revitalisasi, salah satunya melalui penerapan kurikulum muatan lokal di berbagai satuan pendidikan—sebuah langkah krusial untuk memastikan bahasa daerah tetap diajarkan dan digunakan di lingkungan sekolah.

Meskipun begitu, beberapa bahasa daerah seperti Melayu Kutai, Paser, Banjar, Bugis, Bahau, dan Kenyah, dilaporkan masih memiliki tingkat vitalitas yang cukup aman. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *