Garda Depan Konservasi: Warga Derawan Dilatih Jadi ‘Citizen Scientist’ Penyelamat Penyu Hijau
Samarinda, nusaetamnews.com : Upaya penyelamatan penyu hijau di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, kini memasuki babak baru. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) resmi menggandeng warga lokal dan lintas sektor internasional untuk memperkuat benteng konservasi di habitat peneluran penyu terbesar se-Asia Tenggara tersebut.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa menjaga kelestarian penyu tidak bisa hanya mengandalkan aturan di atas kertas. Partisipasi aktif masyarakat di lapangan adalah penentu keberhasilan jangka panjang.
“Kalau warga sudah punya sense of belonging dan kapasitas yang mumpuni, perlindungan laut kita bakal jauh lebih powerful. Kita ingin masyarakat menjadi bagian langsung dari solusi,” ujar Irhan di Samarinda, Sabtu (21/2).
Misi Somacore: Memperkuat Segitiga Terumbu Karang
Melalui program Somacore (Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle), DKP Kaltim berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak. Program ambisius ini didukung oleh Pemerintah Federal Jerman melalui International Climate Initiative (IKI).
Sekitar 60 warga dari Kecamatan Biduk-Biduk, Batu Putih, dan Maratua diterjunkan dalam bimbingan teknis (Bimtek) intensif pada awal Februari lalu. Mereka dilatih dengan pendekatan citizen science—sebuah konsep di mana warga biasa berperan sebagai “ilmuwan lapangan”.
Penyu Sensitif, Butuh Privasi Tinggi
Rizya Ardiwijaya, Coral Reef Specialist dari YKAN, memaparkan fakta penting: penyu adalah makhluk yang sangat sensitif. Aktivitas manusia yang terlalu masif di pesisir seringkali membuat penyu “stres” dan gagal bertelur.
“Gangguan kecil saja bisa bikin mereka balik kanan. Padahal, beberapa pantai di kawasan KKP3K KDPS (Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya) adalah lokasi peneluran aktif sepanjang tahun, dengan puncaknya di bulan Juni hingga Agustus,” jelas Rizya.
Teknologi di Tangan Nelayan
Bimtek ini tidak hanya berisi teori membosankan. Para peserta—yang mayoritas adalah nelayan—diajarkan teknik mutakhir secara langsung:
- Identifikasi Jejak: Membedakan spesies penyu hanya dari bekas sirip di pasir.
- Pencatatan Sarang: Memetakan lokasi telur dengan presisi.
- Digital Monitoring: Simulasi pengambilan data menggunakan aplikasi berbasis Android.
Dengan bekal teknologi dan pengetahuan biologi-ekologi, kelompok masyarakat ini kini siap menjadi “mata dan telinga” bagi keberlangsungan hidup penyu hijau, sekaligus menjaga kedaulatan hayati di perairan Kalimantan Timur. (ant/one)