Gak Cuma Soal Uang! Ini Dia Akar Masalah Kemiskinan di Jantung Kota Samarinda
SAMARINDA – Meskipun sering dijuluki kota kaya hasil sumber daya alam dan kini makin hype menjelang IKN, faktanya masih ada “kantong-kantong kemiskinan” di wilayah perkotaan Samarinda (seperti di Samarinda Utara dan Samarinda Ilir).
Masalah ini bukan sekadar statistik, tapi tumpukan isu yang kompleks. Intinya, kemiskinan di perkotaan Samarinda adalah hasil dari kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan struktural.
1. Sektor Informal dan Kualitas SDM yang Rendah
Ini adalah biang kerok utama di perkotaan. Banyak warga miskin bekerja di sektor informal (buruh bangunan, buruh tani/nelayan, pedagang kecil, dsb.) dengan upah harian yang sangat rentan.
* Pendidikan Rendah: Banyak kepala rumah tangga yang tidak tamat SD atau hanya tamat SD. Ini membatasi akses mereka ke pekerjaan dengan gaji yang layak (skilled job).
* Keterbatasan Keterampilan: Rendahnya pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan produktivitas usaha, membuat mereka sulit bersaing atau mengembangkan bisnis mikro. Mereka cenderung terjebak dalam pekerjaan yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan.
2. Kualitas Tempat Tinggal & Akses Infrastruktur Dasar
Meski di tengah kota, banyak rumah tangga miskin masih menghadapi masalah kemiskinan dimensi non-pendapatan.
Hunian Minim: Luas lantai tempat tinggal kurang dari 8m^2 per orang dengan jenis lantai dan dinding yang masih berkualitas rendah (tanah, bambu, kayu murahan).
Sanitasi dan Air Bersih: Keterbatasan fasilitas buang air besar (menggunakan fasilitas bersama) dan sumber air minum yang tidak terlindungi, meningkatkan risiko kesehatan dan pengeluaran untuk pengobatan.
3. Ketidakstabilan Ekonomi Makro
Faktor-faktor besar di level kota juga ikut menekan daya beli warga miskin:
Inflasi Tinggi: Kenaikan harga-harga (inflasi), terutama kebutuhan pokok, langsung mengikis pendapatan rumah tangga miskin. Ketika harga bensin, listrik, dan perumahan naik, daya beli mereka langsung anjlok.
Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi (pada periode tertentu): Jika laju pertumbuhan ekonomi melambat, maka permintaan tenaga kerja juga berkurang, yang berujung pada pengangguran atau pekerjaan tidak tetap—dua ciri utama keluarga miskin.
4. Isu Struktural dan Implementasi Program
Beberapa penelitian menyoroti bahwa masalah ini juga muncul karena sistem.
- Koordinasi Program Lemah: Seringkali, program pengentasan kemiskinan dari berbagai instansi (pusat, provinsi, daerah) belum terintegrasi dan terkoordinasi secara optimal. Akibatnya, bantuan atau program pelatihan yang dijalankan tidak langsung mengenai akar masalah kemiskinan di level kelurahan.
- Kesulitan Modal Usaha: Rumah tangga miskin yang ingin membuka usaha kesulitan mengakses modal, sementara pembinaan industri rumah tangga masih minim.
Intinya, kemiskinan di Samarinda adalah puzzle yang harus diselesaikan dari berbagai sisi: mulai dari peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan, perbaikan infrastruktur dasar, hingga kebijakan ekonomi yang stabil dan program pemerintah yang lebih terpadu dan on-point ke sasaran. (setia wirawan)