Gak Ada Lagi Kelas-Kelasan! 68 RS di Kaltim Upgrade Layanan, Wajib Buka Poli Malam & Weekend
Samarinda, nusaetamnews.com : Kabar gembira buat warga Kalimantan Timur! Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim lagi all-out memoles mutu layanan di 68 rumah sakit se-provinsi. Targetnya jelas: warga dapat fasilitas medis kelas wahid tanpa ribet urusan akses.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa rumah sakit sekarang dituntut makin fleksibel untuk melayani kebutuhan warga yang padat.
“Tujuan utama keberadaan rumah sakit adalah menyehatkan masyarakat melalui layanan unggul tanpa pembatasan akses, termasuk dengan membuka poli pada akhir pekan dan malam hari,” ujar Jaya di Samarinda, Senin (6/4/2026).
Bye-Bye Sistem Kelas, Selamat Datang Tingkat Kompetensi
Ada perubahan besar dalam skema RS di Kaltim. Saat ini, sistem label kelas A, B, C, atau D sudah dipensiunkan. Sebagai gantinya, RS bakal dikategorikan berdasarkan 24 jenis layanan dengan tingkatan kompetensi:
- Dasar (Spesialis anak, penyakit dalam, kandungan, dan bedah).
- Madya.
- Utama.
- Paripurna.
Semakin banyak jumlah tempat tidur—apalagi jika sudah menyentuh angka 200 hingga 250—maka kompetensi penanganan kesehatannya pun otomatis bakal terus bertambah.
Antre Online & Kamar Transparan Jadi Harga Mati
Senada dengan Dinkes, Sekda Kaltim Sri Wahyuni memberikan instruksi keras kepada seluruh RS Daerah agar nggak main-main soal pelayanan pasien BPJS Kesehatan. Dia menuntut tiga pilar utama segera diperkuat: SDM kompeten, organisasi solid, dan teknologi medis yang mutakhir.
Digitalisasi adalah kunci. Sri meminta rumah sakit segera mengaplikasikan teknologi informasi demi kenyamanan pasien.
- Antrean Online: Pendaftaran nggak perlu lagi antre fisik yang melelahkan.
- Transparansi Kamar: Publikasi ketersediaan ruang rawat inap harus bisa diakses real-time.
“Upaya ini tujuannya agar masyarakat yang datang berobat tidak hanya pulang dalam kondisi sehat, tetapi juga merasa aman, nyaman, dan puas,” pungkas Sri. Dengan sistem rujukan dari Puskesmas (FKTP) yang lebih presisi, diharapkan tidak ada lagi cerita pasien ditolak karena salah tujuan RS. (Ant/one)