Subscribe

“Gagal Sepakat Itu Kabar Buruk Buat Teheran”: J.D. Vance,”Ketidakpercayaan Sudah Mendarah Daging!”Esmaeil Baqaei

4 minutes read

WASHINGTON – Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance, memberikan pernyataan menohok usai kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan. Vance menegaskan bahwa kegagalan mencapai titik temu ini akan memberikan dampak yang jauh lebih menyakitkan bagi Teheran ketimbang Washington.

“Kabar buruknya adalah kita belum sepakat. Tapi menurut saya, ini kabar yang jauh lebih buruk buat Iran daripada buat Amerika Serikat,” ujar Vance kepada wartawan dengan nada tegas, Minggu (12/4/2026).

Tawaran Final: “Take It or Leave It”

Sebagai ketua delegasi AS, Vance mengeklaim pihaknya sudah cukup fleksibel selama proses perundingan. Namun, Washington tidak akan berkompromi terkait “garis merah” yang telah ditetapkan. Menurutnya, Iran sengaja memilih untuk menolak syarat-syarat yang diajukan AS.

“Kami meninggalkan meja perundingan dengan usulan yang sangat simpel. Itu adalah tawaran final dan terbaik dari kami (final and best offer),” tegas Vance.

Fokus Utama: Senjata Nuklir Jangka Panjang

Titik krusial yang membuat negosiasi ini kandas adalah jaminan keamanan terkait ambisi nuklir Iran. AS menuntut komitmen absolut bahwa Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya untuk jangka pendek, tapi selamanya.

Poin Utama Tuntutan AS:

  • Komitmen Jangka Panjang: Jaminan anti-nuklir permanen, bukan sekadar jeda 1–2 tahun.
  • Garis Merah Jelas: AS telah memetakan hal-hal yang bisa diakomodasi dan yang bersifat non-negosiabel.
  • Fleksibilitas Terbatas: Washington merasa sudah memberikan ruang kompromi yang cukup sebelum mencapai batas akhir.

Iran Pilih Menolak

Vance menyayangkan sikap Iran yang tidak memanfaatkan momentum diplomasi ini. Hingga akhir pertemuan, AS mengaku belum melihat itikad mendasar dari Teheran untuk menghentikan program nuklirnya secara total.

“Pertanyaannya sederhana: apakah ada komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami harap mereka berubah pikiran, tapi saat ini mereka memilih menolak syarat kami,” pungkas Vance sebelum bertolak kembali ke AS.

Kegagalan ini diprediksi akan memperpanjang ketegangan di Selat Hormuz dan memicu sanksi ekonomi yang lebih berat bagi Iran di bawah pemerintahan Trump-Vance.

Iran Sebut Wajar Gak Ada Kesepakatan: “Ketidakpercayaan Sudah Mendarah Daging!”

Sementara itu,  Iran akhirnya buka suara terkait bumbunya perundingan dengan Amerika Serikat di Islamabad. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa sangat “wajar” jika kesepakatan tidak tercapai hanya dalam waktu singkat, mengingat tensi kedua negara yang sudah mencapai titik didih.

Baqaei menyebut suasana meja perundingan tidak hanya dingin, tapi dipenuhi kecurigaan akut setelah rentetan konflik bersenjata yang menyeret AS dan Israel dalam sembilan bulan terakhir.

“Pembicaraan ini berlangsung di bawah bayang-bayang keraguan dan kecurigaan setelah perang 40 hari yang dipicu AS dan Israel. Jadi, wajar kalau satu pertemuan saja tidak cukup. Tidak ada yang punya ekspektasi muluk-muluk sejak awal,” tegas Baqaei lewat televisi pemerintah Iran, Minggu (12/4/2026).

Daftar Panas di Meja Perundingan

Meski ada sedikit kemajuan di beberapa poin, Baqaei mengakui ada 2-3 isu krusial yang jadi batu sandungan besar. Melalui platform X, ia membocorkan dimensi berat yang dibahas selama 24 jam nonstop:

  • Blokade Strategis: Status Selat Hormuz.
  • Isu Nuklir: Komitmen dan batasan pengembangan.
  • Reparasi War: Ganti rugi akibat perang.
  • Sanksi & Ekonomi: Pencabutan sanksi serta penghentian total agresi di kawasan.

Syarat Iran: “Jangan Kasih Tuntutan Gak Masuk Akal!”

Iran melemparkan bola panas kembali ke Washington. Menurut Baqaei, keberhasilan diplomasi ke depan sepenuhnya bergantung pada itikad baik Amerika Serikat untuk berhenti mengajukan tuntutan yang dianggap melanggar hukum internasional.

“Pihak lawan harus menahan diri dari tuntutan berlebihan dan mulai menerima hak serta kepentingan sah Iran,” tambahnya melalui unggahan di media sosial.

Delegasi Iran Cabut dari Pakistan

Setelah marathon perundingan selama 21 jam—baik secara langsung maupun lewat mediator—delegasi Iran dilaporkan telah meninggalkan Pakistan. Meskipun berterima kasih atas upaya tulus Pakistan sebagai tuan rumah, pihak Iran belum memberikan sinyal pasti kapan putaran negosiasi selanjutnya akan digelar.

Dengan gagalnya pertemuan ini, tensi di Selat Hormuz diprediksi masih akan tetap “panas”, sementara dunia harus terus bersiap menghadapi ketidakpastian jalur logistik energi global. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *