Ekonomi “Gas Poll”: Kredit Perbankan Balikpapan-PPU-Paser Tembus Rp41,68 Triliun di 2025
Balikpapan, nusaetamnews.com : Sektor perbankan di wilayah kerja Bank Indonesia Balikpapan mencatatkan comeback luar biasa. Sepanjang tahun 2025, penyaluran kredit meroket 19,62 persen (yoy) dengan total mencapai Rp41,68 triliun. Angka ini menandai pemulihan kuat setelah sempat terkontraksi 7,05 persen pada tahun sebelumnya.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa tren positif ini mencerminkan fungsi intermediasi perbankan yang berjalan optimal di tiga wilayah strategis: Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser.
“Ini sinyal hijau bagi perekonomian kita. Kuatnya pertumbuhan kredit menunjukkan prospek usaha di wilayah penyangga IKN masih sangat seksi, sehingga perbankan makin pede menyalurkan pembiayaan,” ujar Robi, Sabtu (21/2).
Investasi Jadi “Bintang Utama”
Lonjakan kredit ini rupanya didominasi oleh Kredit Investasi yang terbang tinggi 72,21 persen (yoy) menjadi Rp16,78 triliun. Meluasnya proyek hilirisasi industri dan ekspansi besar-besaran para pelaku usaha menjadi bahan bakar utama pertumbuhan ini.
Secara struktur, pembiayaan masih didominasi oleh kredit investasi dan modal kerja dengan porsi jumbo mencapai 65,29 persen. Sementara itu, kredit konsumsi tetap tumbuh stabil di angka 7,33 persen atau setara Rp14,47 triliun.
Konstruksi dan UMKM Tetap Tangguh
Jika dibedah berdasarkan lapangan usaha, sektor konstruksi memegang kendali dengan pangsa 18,97 persen, disusul sektor perdagangan (13,41 persen), dan pertanian (12,75 persen) yang menjadi tulang punggung ekonomi di PPU dan Paser.
Di sisi lain, napas UMKM tetap terjaga dengan penyaluran kredit stabil di angka Rp12,85 triliun. Menariknya, komposisi modal kerja UMKM mencapai 53,7 persen, menunjukkan aktivitas operasional bisnis kecil di daerah masih sangat dinamis.
Sehat Secara Kualitas
Meski ekspansi kredit tergolong agresif, perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent). Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat di level 2,25 persen. Meski naik tipis dari tahun lalu (2,10 persen), angka ini masih jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen.
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik tipis 1,85 persen menjadi Rp52,88 triliun, yang didominasi oleh produk tabungan (49,12 persen) dan giro (34,86 persen).
“Kombinasi pertumbuhan kredit yang kuat dan kualitas yang terjaga adalah bukti ketahanan sektor keuangan daerah. Kita optimis ini jadi fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” pungkas Robi. (ant/one)