Dua Kandidat Lolos OJK, Dirut Bankaltimtara Tergantung Pemegang Saham Mayoritas
Samarinda – Perebutan kursi Direktur Utama (Dirut) Bankaltimtara memasuki babak krusial. Dua nama resmi mengantongi persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan akan ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 23 April 2026 di Samarinda.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan proses penentuan Dirut Bankaltimtara berbasis regulasi perbankan yang ketat. Meski diakuinya, tekanan publik, termasuk isu “putra daerah” bergulir sangat kencang.
“Dua kandidat sudah lolos fit and proper test OJK,” sebut Andi Harun, Kamis (2/4/2026).
Artinya, keduanya memenuhi syarat dari sisi integritas, kompetensi, dan pengalaman manajerial di sektor perbankan.
Dua Nama, Satu Kursi
Dua kandidat yang akan bersaing adalah Romy Wijayanto dan Amri Maruaga. Keduanya disebut memiliki rekam jejak panjang di industri perbankan nasional dan telah melewati tahapan seleksi berlapis. Mulai dari uji administrasi, penilaian rekam jejak, hingga uji kelayakan dan kepatutan oleh OJK.
Namun, satu fakta yang memicu sorotan publik, keduanya bukan berasal dari Kalimantan Timur. Isu ini sempat menguat di tengah dorongan agar pucuk pimpinan bank daerah diisi figur lokal.
Andi Harun tak bisa berkata banyak sebab dalam industri perbankan, yang utama adalah kompetensi dan kepatuhan terhadap regulasi.
Apalagi, penentuan Dirut Bankaltimtara sepenuhnya berada di tangan pemegang saham melalui mekanisme voting dalam RUPS dan struktur kepemilikan saham menjadi faktor kunci.
Pemerintah Provinsi Kaltim menjadi pemegang saham mayoritas, di atas 50 persen. Pemerintah kabupaten/kota se-Kaltim dan Kaltara, sisanya (minoritas).
Dengan komposisi ini, Pemprov Kaltim menjadi penentu akhir. Dukungan dari kabupaten/kota tetap diperhitungkan, tetapi tidak dominan.
“Siapa pun yang didukung mayoritas saham, itu yang akan terpilih,” tegas Andi Harun.
RUPS tahun ini tidak hanya menetapkan komandan baru, tetapi juga merombak jajaran direksi dan komisaris. Selain itu, ada agenda strategis lain. Evaluasi kinerja direksi lama, laporan keuangan dan tingkat kesehatan bank, pertumbuhan aset dan kredit, serta kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Evaluasi ini menjadi krusial, mengingat beberapa waktu terakhir Bankaltimtara disorot terkait penurunan kontribusi deviden serta isu tata kelola.
Tantangan Dirut Baru
Dirut terpilih nantinya akan menghadapi sejumlah pekerjaan rumah besar antara lain
meningkatkan kontribusi deviden ke daerah di tengah tekanan ekonomi dan kompetisi perbankan, memperkuat tata kelola (good corporate governance) pascasorotan publik. Lalu
ekspansi kredit produktif, khususnya untuk mendukung UMKM dan proyek pembangunan daerah.
Selain itu perlu melakukan transformasi digital perbankan, agar mampu bersaing dengan bank nasional dan fintech.
Dengan total aset yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah dan jaringan layanan di dua provinsi (Kaltim dan Kaltara), posisi Dirut Bankaltimtara dinilai strategis, bukan hanya secara bisnis, tetapi juga politik ekonomi daerah.
RUPS rencananya akan digelar 23 April 2026 di Samarinda.