Drama IUP Tambang “Warisan 70-an” yang Bikin Bahlil Gerah!
JAKARTA, nusaetamnews.com : su izin usaha pertaimbangan (IUP) di Raja Ampat, mutiara pariwisata Papua Barat Daya, lagi-lagi jadi hot topic. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dituding “cawe-cawe” dalam penerbitan izin.
Eits, tunggu dulu! Kritikan itu dinilai salah alamat oleh pakar energi dari Universitas Islam Riau (UIR), Ira Herawati.
IUP Warisan: Bukan Bahlil yang Bikin!
Menurut Ira, apa yang dikatakan Menteri Bahlil itu valid: IUP di Raja Ampat itu sudah ada sejak zaman baheula, lho. “Apa yang dikatakan Pak Bahlil itu benar kalau IUP itu memang sudah lama, dan dia hanya menjalankan sesuai dengan peraturan pemerintah,” tegas Ira, membela langkah Kementerian ESDM.
Alih-alih dituding main mata, Ira justru melihat keseriusan pemerintah dalam beres-beres tata kelola tambang. Buktinya? Pemerintah sudah mencabut empat dari lima IUP di Raja Ampat yang kedapatan melanggar!
“Dengan melakukan itu, berarti kan menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengapresiasi permintaan warganya,” tambahnya. Clear, kan?
Ketegasan Menteri Bahlil Bawa Angin Segar?
Hal senada juga datang dari pakar komunikasi publik Unri, Chelsy Yesicha. Ia menilai langkah Bahlil mencabut izin tersebut adalah bukti ketegasan yang bisa menumbuhkan kembali trust publik terhadap sektor pertambangan di Indonesia.
Namun, Chelsy mengingatkan, mengembalikan kepercayaan publik itu butuh waktu dan proses yang hati-hati.
“Masyarakat sudah tahu dengan budaya-budaya pemerintah, retorika dan janji pemerintah. Untuk mengembalikan itu memang perlu waktu dan kehati-hatian,” kata Chelsy.
Dalam rapat kerja Komisi XII DPR RI (11 November 2025), Bahlil sendiri sudah blak-blakan menegaskan bahwa IUP di Raja Ampat tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa kepemimpinannya. Ia justru bertindak tegas setelah turun langsung ke lapangan dan menemukan banyak pelanggaran administratif dan lingkungan. Intinya: Pemerintah all-out membersihkan “warisan” IUP bandel di Raja Ampat. Publik tinggal menunggu, seberapa cepat trust itu bisa kembali pulih. (ant/one)