Subscribe

Distribusi Uang Jadi Penjaga Irama Ekonomi Ramadan

2 minutes read

SAMARINDA — Ramadan selalu membawa dua wajah sekaligus. Suasana ibadah yang khusyuk dan denyut ekonomi yang meningkat tajam. Dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan, dari UMKM hingga transaksi digital, semuanya bergerak lebih cepat. Di tengah lonjakan itu, distribusi uang dan kelancaran sistem pembayaran menjadi kunci agar roda ekonomi tetap stabil.

Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji mengatakan Ramadan bukan sekadar momentum religius, tetapi juga periode krusial bagi stabilitas ekonomi daerah.

Permintaan uang tunai meningkat, aktivitas jual beli melonjak, dan perputaran uang menjadi lebih dinamis. Jika distribusi tidak tertata, potensi gangguan transaksi bisa saja terjadi.

“Ramadan memperkuat solidaritas sosial sekaligus menggerakkan ekonomi. Karena itu, sistem distribusi uang yang rapi dan layanan penukaran yang terorganisir sangat penting agar masyarakat bisa beribadah dan bertransaksi dengan nyaman, tertib, dan aman,” kata Seno, Minggu (15/2/2026).

Program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (Serambi) yang digagas Bank Indonesia, kata dia, bukan hanya soal ketersediaan uang layak edar. Lebih dari itu, ada misi edukasi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam memperlakukan rupiah dengan baik. Uang yang bersih dan layak edar bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap simbol negara.

“Rupiah adalah simbol kedaulatan. Setiap lembar mencerminkan identitas bangsa dan kekuatan ekonomi nasional. Menjaganya adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Di sisi lain, transformasi sistem pembayaran terus bergerak ke arah digital. Pemanfaatan QRIS, transaksi nontunai, hingga digitalisasi keuangan daerah dinilai menjadi fondasi penting bagi efisiensi dan transparansi ekonomi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, lanjut Seno, mendorong percepatan digitalisasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi regional.

Ia juga mengapresiasi sinergi antara Bank Indonesia, OJK, perbankan, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional, ketika konsumsi meningkat dan ekspektasi publik terhadap layanan keuangan ikut naik.

“Kolaborasi inilah yang harus terus kita perkuat. Stabilitas ekonomi tidak lahir dari satu institusi saja, tetapi dari kerja bersama,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *