Subscribe

Dinamika Konektivitas Wilayah di Provinsi Kalimantan Timur: Analisis Komprehensif Kendala Struktural, Akselerasi Infrastruktur, dan Strategi Transformasi Menuju Superhub Ekonomi Nusantara

14 minutes read

Oleh : Setia Wirawan ( Leader Lembaga Fokus Survei Kaltim dan Pimpinan Umum nusaetamnews.com)

Provinsi Kalimantan Timur saat ini sedang menjalani metamorfosis spasial dan ekonomi yang paling radikal dalam sejarah modern Indonesia. Penunjukan sebagian wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) telah memicu pergeseran paradigma dari pembangunan yang bersifat ekstraktif menuju integrasi konektivitas yang cerdas dan berkelanjutan. Namun, di balik ambisi besar tersebut, terdapat realitas geografis dan struktural yang sangat menantang, mulai dari bentang alam rawa yang luas hingga isolasi digital di wilayah pedalaman hulu Mahakam.Tulisan ini mencoba memberikan analisis mendalam mengenai ekosistem konektivitas di Kalimantan Timur, mengidentifikasi hambatan-hambatan kritis, serta merumuskan kerangka solusi strategis untuk mengintegrasikan wilayah ini ke dalam arus utama ekonomi global melalui penguatan jalur darat, udara, maritim, dan digital. Tulisan ini merupakan hasil dari riset literatur dipadukan dengan pengalaman penulis sebagai praktisi kegiatan usaha penambangan batubara di kaltim, moga bermanfaat.

Lanskap  Konektivitas Transportasi: Antara Pemulihan dan Pertumbuhan di Kaltim

Konektivitas di Kalimantan Timur secara historis sangat bergantung pada jalur sungai dan udara karena kondisi daratan yang didominasi oleh hutan dan rawa. Namun, dalam periode 2024 hingga 2025, terjadi perubahan signifikan dalam pola mobilitas penduduk dan distribusi barang. Berdasarkan data perkembangan transportasi, terlihat adanya fluktuasi yang dipengaruhi oleh dinamika pembangunan IKN serta aktivitas ekonomi regional yang kembali bergairah pasca-pandemi.

Vitalitas Moda Transportasi Udara

Sektor angkutan udara mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif, mencerminkan tingginya intensitas pergerakan tenaga kerja, pejabat pemerintah, dan investor ke wilayah ini. Pada Juni 2025, jumlah penumpang domestik yang berangkat dari Kalimantan Timur tercatat sebanyak 252.866 orang, yang merupakan lonjakan sebesar 24,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Fenomena ini tidak hanya terkonsentrasi di pusat perkotaan, tetapi juga merambat ke wilayah perintis di pedalaman.

Bandar Udara Lokasi Kabupaten/Kota Pertumbuhan Penumpang (Mei ke Juni 2025) Kontribusi Terhadap Total Penumpang
Sepinggan Balikpapan 27,26% 78,62%
APT Pranoto Samarinda 9,77% 12,28%
Kalimarau Berau 30,70% Signifikan (Domestik)
Melalan Kutai Barat 6,43% Perintis/Domestik
Datah Dawai Mahakam Ulu 37,50% Strategis (Hulu)

Bandara Sepinggan di Balikpapan tetap memegang kendali sebagai simpul utama dengan melayani 198.800 orang atau hampir 79 persen dari total pergerakan udara domestik di provinsi tersebut.  Menariknya, pertumbuhan tertinggi justru tercatat di Bandara Datah Dawai yang terletak di Kabupaten Mahakam Ulu sebesar 37,50 persen, mengindikasikan bahwa aksesibilitas ke wilayah paling terpencil di hulu Sungai Mahakam mulai terbuka secara intensif seiring dengan peningkatan anggaran daerah dan kebutuhan logistik pemerintahan. Di sisi lain, penerbangan internasional yang hanya dilayani melalui Balikpapan menunjukkan fluktuasi, di mana pada Juni 2025 terjadi penurunan 49,16 persen secara bulanan (MoM), namun secara akumulatif dari Januari hingga Juni 2025 justru mengalami kenaikan signifikan sebesar 24,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Arus Logistik Maritim dan Dominasi Pelabuhan Strategis

Sebagai provinsi dengan garis pantai yang panjang dan kekayaan komoditas ekspor, angkutan laut merupakan tulang punggung ekonomi Kalimantan Timur. Volume barang yang diangkut selama semester pertama tahun 2025 mencapai 52.480,80 ribu ton, naik 3,65 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Struktur logistik laut ini didominasi oleh pelabuhan-pelabuhan yang melayani industri pertambangan, minyak dan gas, serta logistik material konstruksi IKN.

Pelabuhan Utama Volume Barang (Ribu Ton) Kontribusi (%) Pertumbuhan Signifikan
Kuala Samboja 2.406,14 24,86% Hub Logistik IKN
Tanjung Redeb 1.925,21 19,89% Komoditas Berau
Sangkulirang 1.769,68 18,29% Perkebunan/Tambang
Sangatta 1.464,82 15,14% Batu Bara
Tanah Grogot 1.367,07 14,13% Logistik Selatan
Semayang Kenaikan 57,44% (Jan-Jun)

Peningkatan volume di Pelabuhan Semayang yang mencapai 57,44 persen merupakan indikator paling jelas dari ketergantungan pembangunan IKN pada infrastruktur pendukung di Balikpapan. Pelabuhan Kuala Samboja, yang letaknya secara geografis sangat dekat dengan kawasan inti IKN, kini berfungsi sebagai gerbang masuk utama bagi alat berat dan material bangunan, yang menjelaskan dominasinya dalam persentase pengangkutan barang.  Namun, efisiensi di sektor ini seringkali terganggu oleh faktor alam seperti cuaca buruk dan fenomena pasang surut sungai yang memengaruhi navigasi kapal tongkang di perairan dalam.

Kendala Geografis dan Geoteknik: Tantangan Fisik Pembangunan Darat

Masalah konektivitas di Kalimantan Timur tidak dapat dipisahkan dari kondisi biofisik wilayah yang sangat menantang. Pembangunan jalan darat di provinsi ini menghadapi dua hambatan utama: isolasi pedalaman di wilayah barat dan kondisi tanah lunak di wilayah pesisir serta dataran rendah.

Disparitas Infrastruktur Pesisir dan Pedalaman

Terdapat kesenjangan yang mencolok antara kawasan perkotaan pesisir seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang dengan wilayah pedalaman seperti Mahakam Ulu atau Kutai Barat. Wilayah pesisir telah menikmati kemajuan melalui pembangunan jalan tol dan pelabuhan internasional, sementara wilayah pedalaman masih kekurangan sarana dasar seperti jalan penghubung antar desa yang layak, jaringan listrik yang stabil, dan fasilitas kesehatan yang memadai. Di Mahakam Ulu, mobilitas seringkali terhenti sepenuhnya saat air sungai surut, memaksa penduduk menggunakan transportasi udara yang sangat mahal atau menempuh jalur darat yang masih berupa tanah liat yang sulit dilalui saat musim hujan.

Ketimpangan ini menciptakan ekonomi biaya tinggi di pedalaman. Harga komoditas dasar di wilayah hulu dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan di Balikpapan karena rantai logistik yang panjang dan berisiko tinggi.3 Kondisi geografis yang berbukit-bukit dan didominasi oleh tutupan hutan primer menambah kompleksitas perencanaan jalan darat yang harus menyeimbangkan antara kebutuhan konektivitas dengan komitmen pelestarian lingkungan.

Karakteristik Tanah Lunak dan Risiko Kegagalan Struktur

Secara teknis, pembangunan infrastruktur darat di Kalimantan Timur harus berhadapan dengan lahan rawa dan gambut yang luas. Tanah di kawasan ini memiliki karakteristik geoteknik yang unik, antara lain kadar air yang berkisar antara 100 persen hingga 800 persen, yang jauh melampaui batas cair tanah mineral anorganik pada umumnya. Hal ini menyebabkan tanah memiliki daya dukung yang sangat rendah dan tingkat kompresibilitas atau penyusutan yang tinggi.

Salah satu bukti nyata dari tantangan ini adalah peristiwa amblesnya struktur slab on pile pada ruas Jalan Tol IKN Seksi 3A2 sepanjang 82,5 meter pada Januari 2026. Insiden tersebut dipicu oleh hujan deras yang menyebabkan pergeseran timbunan lumpur di area disposal, yang kemudian menekan tiang penyangga struktur tol.7 Kejadian ini menggarisbawahi bahwa efisiensi biaya konstruksi di Kalimantan Timur seringkali terkendala oleh kebutuhan akan teknologi stabilisasi tanah yang mahal dan kompleks. Kurangnya integrasi data sektoral dalam perencanaan awal juga meningkatkan risiko inefisiensi anggaran dan keterlambatan proyek.

Akselerasi Infrastruktur Pendukung IKN: Transformasi Koridor Balikpapan-Samarinda

Pembangunan Ibu Kota Nusantara menjadi motor penggerak utama dalam modernisasi konektivitas di Kalimantan Timur. Proyek-proyek strategis nasional (PSN) difokuskan pada penguatan koridor ekonomi antara IKN dengan dua kota penyangga utamanya, yaitu Balikpapan dan Samarinda.

Jaringan Jalan Tol dan Konektivitas Aglomerasi

Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (99 km) adalah tonggak pertama konektivitas modern di Kalimantan. Tol ini telah berhasil memangkas waktu tempuh dari semula 3-4 jam menjadi hanya 1 jam, yang secara dramatis menurunkan biaya logistik antar wilayah. Keberhasilan ini kini diikuti dengan pembangunan jaringan tol akses langsung ke IKN yang terdiri dari beberapa seksi strategis.

Seksi Tol IKN Ruas Penghubung Progres Konstruksi (2024/2025) Alokasi Biaya Lahan (LMAN)
Seksi 3A Karang Joang – KKT Kariangau 12,33% Rp 411 Miliar
Seksi 3B KKT Kariangau – Simpang Tempadung 30,11% Rp 18,9 Miliar
Seksi 5A Simpang Tempadung – Jembatan Pulau Balang Signifikan Bagian dari Koneksi Utama
Seksi 6A Riko – Rencana Outer Ring Road IKN Tahap Penetapan Lokasi Berkelanjutan
Seksi 6B Rencana Sp. Itci – Simpang 1B IKN Tahap Penetapan Lokasi Berkelanjutan

Meskipun pembangunan terus digenjot, pengadaan lahan tetap menjadi isu krusial. Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) telah mengeluarkan biaya pembebasan lahan IKN yang cukup masif, mencapai Rp 723,787 miliar hingga periode tertentu, di mana porsi terbesar dialokasikan untuk tol Balikpapan-Samarinda dan akses inti IKN. Kendala di lapangan seringkali muncul akibat sengketa kepemilikan lahan dan penyesuaian trase jalan yang harus menghindari kawasan konservasi atau pemukiman masyarakat adat.

Jembatan Pulau Balang dan Integrasi Logistik Kariangau

Jembatan Pulau Balang menjadi simpul konektivitas yang sangat penting karena menghubungkan Balikpapan dengan Penajam Paser Utara melalui Teluk Balikpapan. Keberadaan jembatan ini, bersama dengan pengembangan Kawasan Industri Kariangau, menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien. Dengan adanya jembatan ini, arus distribusi barang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kapal feri penyeberangan yang memiliki kapasitas terbatas dan waktu tunggu yang lama.

Investasi pada infrastruktur di Kariangau mencakup penyediaan air bersih senilai Rp 481,69 miliar dan infrastruktur energi terbarukan berbasis limbah senilai Rp 1,1 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa konektivitas di sekitar IKN dibangun dengan visi keberlanjutan, di mana infrastruktur fisik didukung oleh fasilitas energi dan sanitasi yang modern untuk menarik minat investor global.

Konektivitas Digital: Mengikis Kesenjangan di Wilayah 3T

Di era transformasi digital, konektivitas tidak lagi hanya soal jalan dan jembatan, tetapi juga soal akses terhadap informasi melalui jaringan internet. Di Kalimantan Timur, tantangan digital terbesar terletak di wilayah “blank spot” yang mencakup daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Problematika Blank Spot di Mahakam Ulu dan Kutai Barat

Kabupaten Mahakam Ulu sempat menjadi daerah dengan tingkat keterpencilan digital tertinggi, di mana pada tahun 2013 tingkat blank spot mencapai 80 persen. Meskipun program Palapa Ring Tengah telah berhasil membawa kabel fiber optik sepanjang 180 km dari Kutai Barat ke Long Bagun, kualitas internet di kecamatan hulu seperti Long Pahangai dan Long Apari masih sangat memprihatinkan.

Kendala utama digitalisasi di pedalaman meliputi:

  1. Kegagalan Aktivasi BTS 4G: Sebanyak 20 menara BTS yang dibangun oleh Bakti Kominfo sempat mangkrak akibat masalah hukum di tingkat kementerian dan belum adanya vendor pengelola yang tetap.
  2. Ketergantungan pada Satelit: Di wilayah hulu yang tidak terjangkau fiber optik, akses internet bergantung sepenuhnya pada VSAT (satelit). Koneksi ini sangat rentan terhadap gangguan cuaca buruk dan memiliki biaya operasional yang tinggi.
  3. Hambatan Topografi: Pegunungan dan lembah di hulu Mahakam menyulitkan penyebaran sinyal nirkabel secara merata, sehingga menciptakan titik-titik isolasi komunikasi di tingkat kampung.

Solusi Internet Satelit dan Inovasi Teknologi

Untuk mengatasi hambatan kabel fisik, teknologi internet satelit kini menjadi jembatan utama bagi masyarakat desa terpencil. Inovasi ini memungkinkan akses informasi bagi nelayan dan petani terkait harga komoditas di pasar global, yang secara langsung meningkatkan daya tawar ekonomi mereka. Sebagai contoh, pemasangan internet satelit di titik-titik strategis seperti balai desa dan sekolah telah memungkinkan anak-anak di pedalaman Mahakam Ulu mendapatkan referensi pendidikan yang setara dengan rekan mereka di perkotaan.

Pemerintah juga sedang melakukan uji coba teknologi Super Wifi yang memanfaatkan akses satelit untuk disebarkan kembali melalui titik-titik pancar yang lebih luas di pedesaan. Hingga tahun 2024, jumlah kampung berstatus blank spot di Mahakam Ulu telah berkurang dari 50 menjadi 18 kampung. Target pemerintah adalah mencapai 100 persen cakupan listrik dan internet 24 jam pada akhir 2024 melalui kolaborasi dengan operator seluler seperti Telkomsel dan pemanfaatan teknologi satelit terbaru.

Strategi Maritim dan Peran ALKI II: Keamanan serta Ekonomi

Posisi geografis Kalimantan Timur di Selat Makassar menempatkannya tepat di jantung Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Jalur ini merupakan salah satu rute pelayaran internasional tersibuk di dunia yang menghubungkan ekonomi Asia Timur dengan Australia dan Eropa melalui Samudra Hindia.

Signifikansi Ekonomi ALKI II bagi IKN

Sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan dunia melewati ALKI II, menjadikannya aset strategis bagi pembangunan ekonomi Kalimantan Timur di masa depan. Dengan pindahnya ibu kota ke wilayah ini, ALKI II akan berfungsi sebagai jalan tol laut utama bagi pasokan logistik nasional. Pemanfaatan jalur ini dapat mendorong pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Kalimantan Timur menjadi pusat transit logistik (hub maritim) yang dapat bersaing dengan Singapura atau pelabuhan lain di kawasan ASEAN.

Aspek Maritim Dampak Terhadap Kalimantan Timur Keperluan Strategis
Perdagangan Dunia 20-30% Arus Kapal Melewati ALKI II Pelabuhan Transit Modern
Keamanan Regional Kerawanan Pembajakan/Penyelundupan Patroli TNI AL dan Bakamla
Pertahanan IKN IKN Berada di Beranda Depan ALKI II Sistem Radar dan Drone
Ekonomi Pesisir Potensi Wisata dan Perikanan Kebijakan Maritim Terpadu

Mitigasi Ancaman dan Pertahanan Cerdas (Smart Defense)

Keberadaan jalur pelayaran internasional di depan mata IKN membawa risiko keamanan yang nyata, termasuk ancaman pembajakan, penyelundupan barang ilegal, hingga potensi spionase. Data menunjukkan adanya peningkatan insiden perompakan sebesar 15 persen dalam lima tahun terakhir di jalur-jalur kritis, sehingga pengamanan Selat Makassar menjadi prioritas nasional.

Pemerintah sedang membangun sistem pertahanan terintegrasi yang mencakup:

  1. Virtual Maritime Gate: Penggunaan teknologi AI dan sensor satelit untuk memantau setiap kapal yang melintas di ALKI II secara real-time.
  2. Pangkalan Militer Khusus: Penguatan pangkalan TNI AL dan pembangunan skuadron drone pengawas untuk memastikan stabilitas di perairan sekitar IKN.
  3. Diplomasi Maritim: Kerjasama regional dengan negara-negara ASEAN untuk menjaga agar ALKI II tetap menjadi jalur yang aman bagi perdagangan internasional namun tetap berada dalam kedaulatan penuh Indonesia.17

Visi Transportasi Masa Depan: Kereta Api Trans Kalimantan

Salah satu rencana paling ambisius untuk merevolusi konektivitas di Kalimantan adalah pembangunan jaringan kereta api. Proyek ini diharapkan dapat menjadi alternatif angkutan massal bagi penumpang dan solusi transportasi logistik yang efisien untuk komoditas berat seperti batu bara dan kelapa sawit.2

Studi Kelayakan Trans-Borneo Railway

Hingga tahun 2025, proyek Trans-Borneo Railway masih berada dalam tahap studi kelayakan intensif yang melibatkan kerjasama antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Studi ini dijadwalkan selesai pada kuartal ketiga tahun 2026 dan akan mencakup analisis teknis, operasional, serta manfaat sosial ekonomi dari jalur sepanjang 1.600 km yang akan mengelilingi pulau Kalimantan.

Di Kalimantan Timur, rencana rel kereta api mencakup jalur logistik yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan utama. PT Kereta Api Borneo telah ditugaskan untuk mengoperasikan jalur sepanjang 203 km yang juga akan didukung oleh pembangunan stasiun, dermaga batu bara, dan pembangkit listrik mandiri. Meskipun proyek ini sempat mengalami penundaan target dari tahun 2020, kebutuhan akan moda transportasi massal yang efisien di wilayah IKN telah menghidupkan kembali urgensi pembangunannya dalam daftar PSN era pemerintahan saat ini.

Dampak Sosial dan Ekonomi Pembangunan Konektivitas

Pembangunan infrastruktur konektivitas yang masif tidak hanya mengubah wajah fisik wilayah, tetapi juga membawa dampak mendalam pada dinamika sosial dan ekonomi masyarakat lokal.

Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Investasi

Pembangunan IKN dan infrastruktur pendukungnya telah membuka lapangan kerja baru di sektor konstruksi, transportasi, dan jasa. Kota-kota penyangga seperti Balikpapan dan Samarinda mengalami peningkatan permintaan akan hunian, hotel, dan restoran, yang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan UKM. PDRB per kapita Balikpapan yang tumbuh stabil menjadi indikator kuat bahwa konektivitas yang baik akan berkorelasi langsung dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Tantangan Sosial dan Konflik Agraria

Di sisi lain, percepatan pembangunan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya marginalisasi terhadap masyarakat asli dan masyarakat adat. Peningkatan harga properti di sekitar wilayah IKN dapat menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendapatkan hunian yang layak. Selain itu, konversi lahan hutan untuk infrastruktur jalan tol berisiko menimbulkan konflik agraria dan hilangnya identitas budaya lokal jika tidak dikelola dengan pendekatan yang inklusif. Ada pula ancaman degradasi lingkungan seperti polusi udara dan air akibat aktivitas konstruksi yang masif di sekitar Teluk Balikpapan.

Solusi Strategis Mengatasi Hambatan Konektivitas

Berdasarkan analisis terhadap berbagai kendala yang ada, diperlukan kerangka solusi yang komprehensif dan multidimensi untuk memastikan keberhasilan pembangunan konektivitas di Kalimantan Timur.

Inovasi Konstruksi di Lahan Rawa

Untuk mengatasi biaya konstruksi yang tinggi dan risiko kegagalan struktur di tanah lunak, pemerintah dan pengembang harus mengadopsi teknologi material lokal. Penggunaan campuran kapur, abu terbang (fly ash), dan abu sekam padi telah terbukti secara akademis mampu meningkatkan nilai daya dukung tanah (CBR) hingga 300 persen dengan biaya hanya 25 persen dari biaya penggunaan semen konvensional. Selain lebih efisien, metode ini juga mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah pertanian dan industri.

Integrasi Sistem Logistik Berbasis Digital

Masalah ketidakseimbangan kargo dan tingginya biaya logistik dapat diatasi melalui pembangunan sistem informasi logistik yang terintegrasi. Dengan adanya platform digital yang menghubungkan pemilik barang, penyedia jasa transportasi, dan pengelola pergudangan, efisiensi operasional dapat ditingkatkan secara signifikan. Optimalisasi Kawasan Industri Kariangau sebagai superhub logistik akan mengurangi ketergantungan pada pelabuhan-pelabuhan kecil yang tidak efisien dan memperpendek rantai pasok ke IKN.

Pemerataan Konektivitas melalui Pendekatan Regional

Pemerintah daerah harus memastikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya terpusat di kawasan IKN, tetapi juga menjangkau wilayah mitra dan penyangga. Penguatan koordinasi antar-instansi (Dishub, PUPR, dan Kominfo) diperlukan untuk sinkronisasi anggaran agar pembangunan jalan pesisir dan hulu berjalan seiringan.2 Program subsidi untuk angkutan perintis, baik udara maupun sungai, tetap menjadi keharusan selama infrastruktur jalan darat di pedalaman belum sepenuhnya tersambung.

Penguatan Ketahanan Maritim dan Digital

Konektivitas maritim harus diperkuat dengan modernisasi fasilitas pelabuhan yang memenuhi standar internasional untuk memanfaatkan potensi ALKI II. Di sisi digital, percepatan aktivasi tower BTS yang mangkrak dan perluasan jaringan internet satelit di wilayah 3T harus menjadi prioritas jangka pendek untuk menjamin hak masyarakat atas informasi. Kerjasama dengan pihak swasta melalui skema insentif pajak dapat didorong untuk mempercepat adopsi teknologi internet di daerah-daerah yang secara komersial kurang menguntungkan bagi operator seluler.

Kerangka Implementasi dan Proyeksi Keberlanjutan

Keberhasilan Kalimantan Timur dalam mengatasi masalah konektivitas akan menentukan posisinya dalam kancah ekonomi global di masa depan. Perjalanan dari status wilayah yang terisolasi menuju pusat pemerintahan dunia memerlukan komitmen jangka panjang yang melibatkan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

Transformasi infrastruktur yang sedang berlangsung, mulai dari pembangunan jalan tol canggih hingga sistem pertahanan laut digital di ALKI II, merupakan fondasi bagi terciptanya ekosistem ekonomi yang tangguh. Namun, aspek kelestarian lingkungan dan keadilan sosial harus tetap menjadi kompas utama dalam setiap kebijakan yang diambil. Pembangunan konektivitas di Kaltim bukan sekadar membangun beton dan aspal, melainkan membangun jaringan kehidupan yang menyatukan keberagaman Nusantara ke dalam satu visi masa depan yang cerah, hijau, dan berkeadilan.

Dengan strategi yang tepat, Kalimantan Timur tidak hanya akan menjadi “gerbang” bagi Ibu Kota Nusantara, tetapi juga akan menjadi simbol kemajuan Indonesia yang mampu menaklukkan tantangan geografis melalui inovasi teknologi dan kearifan lokal. Era baru konektivitas ini diharapkan dapat menghapuskan sekat-sekat isolasi antara pesisir dan hulu, menciptakan kemakmuran yang merata bagi seluruh penduduk di Bumi Etam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *