Subscribe

Derai Air Mata di Punggung Sumatera: Krisis Kemanusiaan Pasca banjir Bandang

4 minutes read

JAKARTA/SUMATERA, nusaetamnews.com : Gelombang curah hujan ekstrem yang dipicu oleh fenomena hidrometeorologi, diperparah oleh kerusakan lingkungan, telah melahirkan mimpi buruk di tiga provinsi di Pulau Sumatera. Sejak akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor serentak menerjang Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), memutus akses, merenggut ratusan jiwa, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 November 2025 menunjukkan skala tragedi yang meluas. Jumlah korban jiwa telah mencapai lebih dari 300 orang, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Korban terbanyak tercatat di Sumatera Utara, disusul oleh Sumatera Barat dan Aceh.
Jalur Terputus, Bantuan Terhambat
Dampak terparah bencana ini adalah lumpuhnya infrastruktur vital. Di Sumatera Barat, jembatan penghubung Nagari Paninggahan dan Malalo ambruk. Sementara di Aceh, dilaporkan belasan jembatan dan ruas jalan nasional terputus total.
• Sumatera Utara (Sumut): Wilayah seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan mengalami isolasi. Akses jalan yang tertutup longsor menyulitkan tim evakuasi dan logistik untuk menjangkau daerah terpencil. Kondisi ini membuat upaya pencarian korban hilang semakin menantang.
• Aceh: Sekitar sembilan kecamatan di Aceh Tengah dilaporkan dalam kondisi darurat kritis dan terisolir total. Jaringan telekomunikasi dan listrik terputus, memperburuk koordinasi penanganan darurat.
• Sumatera Barat (Sumbar): Selain kerusakan infrastruktur jalan, fasilitas publik seperti sekolah dan rumah ibadah juga rusak parah. Puluhan ribu keluarga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Faktor Pemicu: Alam dan Manusia
Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan pakar lingkungan sepakat bahwa bencana ini adalah hasil kombinasi dari faktor alam dan deforestasi.

  1. Siklon Tropis: Kehadiran siklon, seperti Siklon Tropis Senyar yang sempat diidentifikasi, membawa curah hujan jauh di atas normal.
  2. Kerusakan Hutan: Para pakar menyoroti hilangnya kawasan penahan air alami akibat deforestasi, termasuk perubahan lahan menjadi perkebunan. Hilangnya fungsi hutan membuat air hujan langsung melimpas ke sungai, memicu banjir bandang yang membawa material kayu gelondongan dan lumpur.
    Mobilisasi Besar-besaran Penanganan Bencana Sumatera: Fokus Evakuasi dan Logistik
    Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, fokus utama penanganan kini beralih pada upaya evakuasi, pencarian korban hilang, dan distribusi logistik ke daerah terisolasi. Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memimpin koordinasi penanganan darurat dengan mengerahkan sumber daya secara besar-besaran.
    Pencarian Intensif dan Evakuasi Udara
    Prioritas utama di lapangan adalah pencarian korban yang tertimbun longsor dan evakuasi warga dari wilayah yang masih terendam atau terisolasi.
    • Pengerahan Alat Berat: Tim gabungan TNI/Polri, Basarnas, dan BPBD menggunakan alat berat untuk membersihkan material longsor yang memutus akses jalan utama, terutama di jalur-jalur pegunungan Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
    • Akses Udara: Mengingat banyak desa yang terputus total, TNI Angkatan Udara telah memobilisasi belasan helikopter. Helikopter ini digunakan untuk dua tujuan krusial:
  3. Evakuasi Medis: Menjemput korban luka parah dan warga lanjut usia yang terjebak.
  4. Dropping Logistik: Menjatuhkan bantuan makanan siap saji, selimut, obat-obatan, dan tenda ke titik-titik pengungsian yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat.
    • Pusat Komando: Gubernur dari ketiga provinsi telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana, memungkinkan percepatan prosedur dan alokasi dana darurat untuk penanganan di tingkat lokal.
    Tantangan Logistik dan Kondisi Pengungsi
    Penanganan logistik menghadapi tantangan besar akibat kerusakan infrastruktur. Jembatan yang ambruk dan jalan yang tertutup longsor menghambat pergerakan truk bantuan.
    “Kami memaksimalkan semua cara, termasuk menggunakan perahu karet dan helikopter, untuk memastikan bantuan cepat sampai. Namun, kendala geografis dan cuaca masih menjadi tantangan utama,” jelas Kepala BNPB dalam konferensi pers darurat. (one)
    Di lokasi pengungsian, kebutuhan mendesak meliputi:
    Kebutuhan Mendesak Keterangan Tambahan
    Air Bersih dan Sanitasi Risiko penyakit pascabanjir sangat tinggi. Tim kesehatan fokus pada pencegahan kolera dan penyakit kulit.
    Makanan Bayi dan Perlengkapan Wanita Kebutuhan spesifik yang sering terlewat dalam distribusi logistik massal.
    Tenda dan Selimut Ribuan pengungsi sementara menempati tenda darurat, membutuhkan perlindungan dari cuaca dingin dan hujan.
    Dukungan Psikososial Terutama bagi anak-anak dan keluarga yang kehilangan anggota, tim relawan memberikan layanan trauma healing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *