Subscribe

Dari Penguasa “Dunia Malam” ke Lapak Nasi Kuning: Kisah Hijrah Monaki, Sang Legenda Jalan Imam Bonjol

2 minutes read

AROMA gurih nasi kuning dan uap panas dari panci besar menyambut pagi di Jalan Imam Bonjol. Di balik meja kayu sederhana, duduk seorang pria berusia 88 tahun dengan sorot mata yang tetap tajam namun teduh. Namanya Monaki.

Bagi warga Samarinda kekinian, ia mungkin hanya kakek penjual nasi kuning biasa. Namun, mundurlah beberapa dekade, dan kamu akan menemukan nama yang disegani di seantero kawasan hiburan malam: Cambang Madura.

Era “Kaltim” dan Kode Etik Premanisme

Dulu, Monaki adalah bos di kawasan “Kaltim”—titik legendaris hiburan malam Samarinda era Blue Pasifik. Memimpin sekitar 50 anak buah, ia bukanlah tipu preman yang hobi bikin gaduh atau memalak warga.

“Anak buah saya nggak ada yang bikin ribut. Tugasnya jaga keamanan dan parkir. Siapa yang nakal, langsung keluar,” kenang Monaki dengan suara yang masih berwibawa.

Keberaniannya pun legendaris. Suatu kali, seorang penantang datang ingin merebut wilayahnya dengan membawa 10 orang. Dengan tenang, Monaki hanya berucap: “Kalau kamu bisa bawa orang sekampung, baru ke sini lagi.” Lawannya pun ciut dan tak pernah terlihat lagi.

Haji dari Hasil Nasi Kuning, Bukan Uang “Dunia Malam”

Yang membuat kisah Monaki luar biasa adalah prinsip hidupnya. Meski memegang kendali di dunia malam, ia dan istrinya, Satya, punya garis tegas dalam mencari nafkah.

Sejak tahun 1981, Satya sudah mulai berjualan nasi kuning di pinggir jalan. Saat itu, sepiring nasi campur lengkap dengan lauk masih seharga Rp15. Sambil Monaki berbisnis besi tua di siang hari, Satya tetap konsisten di lapak nasi kuningnya.

Hebatnya, kekayaan dari masa lalu “Kaltim” tidak ia campur adukkan dengan kehidupan pribadinya.

  • Naik Haji: Tahun 1994, pasangan ini berangkat ke tanah suci murni dari hasil tabungan jualan nasi kuning dan operasional taksi.
  • Integritas: Monaki memastikan tidak ada satu rupiah pun uang hasil menjaga tempat hiburan yang dibawa hingga hari ini.

Saksi Bisu Perubahan Zaman

Kawasan yang dulu dijaga Monaki kini telah berubah total menjadi bangunan megah seperti Hotel Ibis dan Mercure. Jalan Imam Bonjol yang dulunya rawa sunyi seharga Rp75 ribu per kavling, kini telah menjadi pusat bisnis bernilai miliaran.

Meski zaman berubah dan anak-anaknya telah sukses di Jawa dan Sumatera, Monaki dan Satya tetap setia pada lapak kayunya. Kebahagiaan mereka kini sederhana: melihat mantan anak buahnya—yang kini banyak menjadi kepala desa hingga pengusaha batu bara—datang berkunjung dan tetap memanggilnya dengan hormat. (Ray)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *