City of Light: Wajah Baru Samarinda dan Hangatnya Malam Terakhir 2025 di Tepian Mahakam
SAMARINDA , nusaetamnews.com : Ada suasana berbeda yang menyelimuti “Kota Tepian” saat matahari terakhir di tahun 2025 mulai tenggelam. Samarinda tidak lagi hanya sekadar kota transit; malam ini, ia adalah panggung bagi ribuan harapan warga yang tumpah ruah di jalanan, merayakan transisi menuju 2026 dengan gaya yang lebih tertib namun tetap ikonik.
Teras Samarinda: ‘Ruang Tamu’ Favorit Warga
Titik nol kemeriahan malam ini tak pelak terpusat di Teras Samarinda. Kawasan yang baru saja bersolek ini menjadi magnet utama. Sejak pukul 19.00 WITA, warga dari berbagai sudut kota—bahkan dari luar daerah—mulai memadati area pedestrian yang luas.
Gaya merayakan tahun baru kaum milenial dan Gen Z Samarinda kini bergeser. Alih-alih konvoi kendaraan yang bising, mereka lebih memilih hangout santai di tepi sungai. Ada yang asyik berswafoto dengan latar lampu jembatan yang estetik, ada pula keluarga yang menggelar tikar kecil sambil menikmati kudapan lokal dari UMKM di sekitar lokasi.
“Tahun ini lebih asyik di sini (Teras Samarinda). Suasananya lebih rapi, tidak sepadat tahun-tahun lalu yang macet parah. Bisa jalan kaki sambil menikmati angin sungai,” ujar Fahri (24), salah satu warga yang datang bersama kawan-kawannya.
Pesta Kuliner dan Gema Doa di Sudut Kota
Sektor kuliner menjadi pemenang malam ini. Kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Gajah Mada berubah menjadi lautan manusia. Aroma jagung bakar dan seafood menyeruak di antara obrolan hangat warga. Hampir seluruh kedai kopi dan kafe di Samarinda penuh dipesan, menjadi saksi bisu warga yang melakukan deep talk sebelum menutup buku tahun 2025.
Namun, Samarinda tidak hanya soal hura-hura. Di beberapa masjid besar, termasuk Masjid Baitul Muttaqien (Islamic Center), ratusan warga memilih jalan sunyi melalui zikir dan doa bersama. Mereka menyelipkan harapan agar di tahun 2026, Samarinda semakin terhindar dari banjir dan ekonomi keluarga semakin stabil.
Keamanan Ketat, Perayaan Tetap Melaju
Pemerintah Kota Samarinda bersama aparat kepolisian tampak bekerja ekstra. Penutupan beberapa ruas jalan dilakukan secara situasional untuk mencegah “kiamat” lalu lintas. Petugas kebersihan pun sudah bersiaga di setiap sudut, memastikan bahwa “pesta” malam ini tidak menyisakan tumpukan sampah di esok pagi.
Tanpa pesta kembang api besar yang diorganisir pemerintah sebagai bentuk simpati pada bencana nasional di daerah lain, warga Samarinda justru menunjukkan kedewasaannya. Cahaya justru datang dari lampu-lampu dekorasi kota dan smartphone warga yang menyala serentak saat hitung mundur dimulai.
Menatap 2026 dengan Optimisme
Malam pergantian tahun di Samarinda kali ini menjadi simbol transformasi kota. Dari kota yang dulunya sering dianggap “becek” dan macet, kini berubah menjadi ruang publik yang lebih manusiawi.
Warga tidak sekadar merayakan pergantian angka di kalender, tapi juga merayakan perubahan wajah kota mereka yang semakin modern di bawah bayang-bayang Ibu Kota Nusantara. Samarinda malam ini bukan hanya soal gemerlap lampu, tapi soal kebersamaan yang hangat di tepi Mahakam. (one)