Subscribe

Cegah Stunting Baru, Samarinda Optimalkan Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu & Balita

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda terus tancap gas dalam menekan angka stunting. Kali ini, fokus utama diarahkan pada penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kelompok kritis: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Pemenuhan gizi seimbang yang konsisten dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah munculnya kasus stunting baru, sekaligus menjadi “obat” bagi anak-anak yang sudah terlanjur stunting, terutama mereka yang masih di bawah usia dua tahun.

Strategi “Spesifik & Sensitif”

Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan dua jalur intervensi sekaligus untuk memerangi stunting:

  • Intervensi Spesifik: Aksi langsung berupa pemberian asupan gizi berkualitas dan suplementasi vitamin.
  • Intervensi Sensitif: Pendukung jangka panjang seperti perbaikan sanitasi dan edukasi masif kepada masyarakat.

“Dalam penanganan stunting, intervensi spesifik dan sensitif harus berjalan beriringan agar hasilnya maksimal,” ujar Deasy di Samarinda, Kamis.

Kekuatan 52 Unit Pelayanan Gizi

Hingga saat ini, Samarinda telah mengoperasikan 52 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari total 56 unit yang direncanakan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 unit SPPG sudah aktif melayani distribusi MBG khusus untuk kategori 3B.

Data terbaru mencatat sebanyak 3.052 penerima manfaat di Samarinda telah tercover program ini, dengan rincian:

  • Balita: 2.223 anak
  • Ibu Menyusui: 501 orang
  • Ibu Hamil: 328 orang

TPK dan PKB Jadi Ujung Tombak Distribusi

Proses distribusi MBG 3B di lapangan dikawal ketat oleh ratusan Tim Pendamping Keluarga (TPK) serta puluhan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB). Mereka berperan sebagai motor penggerak, mulai dari verifikasi data hingga memastikan makanan sampai ke tangan yang tepat dengan standar keamanan pangan yang terjaga.

Mekanisme di lapangan:

  1. Makan Bareng & Edukasi: Penerima manfaat berkumpul di titik temu (seperti Posyandu) untuk makan bersama, sekaligus mendapatkan edukasi gizi dan pemantauan berat badan.
  2. Door-to-Door: Bagi penerima yang berhalangan hadir, kader akan mengantarkan langsung ke rumah untuk memastikan makanan benar-benar dikonsumsi.
  3. Sistem Jadwal: Di beberapa wilayah, distribusi dilakukan dua kali seminggu di mana penerima makan di lokasi dan membawa pulang stok makanan untuk dua hari ke depan.

“Kader di lapangan tidak hanya membagikan makanan, tapi juga melakukan pengawasan konsumsi dan memberikan solusi sesuai permasalahan gizi di keluarga masing-masing,” pungkas Deasy. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *