Subscribe

Bukan Cuma Ramalan! Kutim Pakai Pendekatan ‘Genetika Darah’ Buat Upgrade Kinerja ASN

2 minutes read

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) baru saja bikin gebrakan unik dalam dunia birokrasi. Bukan cuma soal absen sidik jari atau laporan kinerja digital, kini Pemkab Kutim mulai melirik pendekatan genetika darah untuk memetakan karakter dan meningkatkan performa Aparatur Sipil Negara (ASN).

Asisten I Pemkab Kutim, Trisno, menyebutkan kalau metode ini jadi game changer untuk memahami karakter dasar pegawai yang selama ini sering luput dari sistem pembinaan konvensional.

“Pendekatan genetika darah ini ngasih kita perspektif baru. Kita pengen tata kelola SDM yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pemahaman karakter individu,” ungkap Trisno di Sangatta, Rabu (7/1).

Stop Pukul Rata: Tiap Pegawai Punya ‘Vibe’ Beda

Selama ini, sistem pembinaan pegawai cenderung disamaratakan. Padahal, menurut Trisno, setiap individu punya cara kerja dan potensi yang beda-beda. Dengan memahami kecenderungan sifat berdasarkan golongan darah, pimpinan bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.

“Tiap golongan darah itu punya kecenderungan sifat tertentu—mulai dari cara mikir, manajemen emosi, sampai gaya komunikasi di kantor. Jadi, pimpinan nggak bakal reaktif lagi, tapi lebih terukur saat membina stafnya,” tambahnya.

Bye-bye Drama Komunikasi di Kantor

Masalah klasik di birokrasi biasanya berakar dari miskomunikasi. Tekanan kerja tinggi sering makin runyam gara-gara cara penyampaian pesan yang nggak pas dengan karakter si penerima.

Lewat pendekatan genetika darah ini, komunikasi internal diharapkan jadi lebih smooth:

  • Pesan tersampaikan dengan efektif: Menyesuaikan gaya bicara dengan karakter lawan bicara.
  • Minim resistensi emosional: Pesan diterima tanpa bikin baper atau memicu konflik.
  • Vibe kerja lebih positif: Komunikasi bukan cuma soal isi pesan, tapi soal timing dan cara yang tepat.

The Right Man on The Right Place

Nggak cuma buat urusan curhat atau komunikasi, Pemkab Kutim juga menerapkan prinsip ini untuk penempatan jabatan. Jadi, posisi ASN nggak cuma ditentukan oleh pangkat atau masa kerja saja, tapi juga kecocokan karakter dengan beban tugas yang bakal diemban.

“Kita pengen bener-bener menerapkan the right man on the right place. Penempatan ASN harus sinkron dengan karakter dasarnya supaya kerjanya makin maksimal dan minim tekanan,” pungkas Trisno. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *