Subscribe

Bukan Cuma Penonton: Sinyal Kuat Warga Dayak dari Jantung IKN

2 minutes read

NUSANTARA, nusaetamnews.com :  Di tengah deru mesin proyek dan transformasi masif Ibu Kota Nusantara (IKN), masyarakat Dayak Kalimantan Timur baru saja mengirimkan pesan penting: Lokalitas adalah harga mati. Mereka menegaskan bahwa warga asli tak boleh cuma jadi penonton di balik pagar pembangunan.

Pesan ini menggema dalam Musyawarah Besar (Mubes) VII Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) 2026. Digelar langsung di Gedung Kemenko 3 IKN pada Sabtu (23/1/2026), forum ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan ajang konsolidasi besar-besaran untuk memastikan suara masyarakat adat tetap “terdengar” di tengah megahnya ibu kota baru.

Pembangunan Maju, Budaya Stay Relevan

Hadir dalam pembukaan, Wakil Gubernur Kaltim, H. Seno Aji, memberikan highlight soal posisi strategis PDKT. Baginya, pembangunan sekelas IKN bakal terasa “kosong” kalau tercerabut dari akar sosialnya.

“Mubes ini momentum krusial. Bukan cuma soal regenerasi kepemimpinan, tapi gimana PDKT bisa tetap relevan dan jadi mitra strategis yang inline dengan agenda daerah,” ujar Seno.

Seno—yang juga punggawa Partai Gerindra Kaltim—mengingatkan bahwa modernitas IKN jangan sampai menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat Dayak adalah fondasi sosial Kaltim yang nggak bisa dipisahkan dari masa depan daerah ini.

IKN Sebagai ‘Rumah’ Bersama

Apresiasi juga datang dari Kepala Otorita IKN (OIKN), Basuki Hadimuljono. Sosok yang akrab disapa Pak Bas ini menyambut hangat keputusan PDKT menggelar Mubes sekaligus perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Nusantara.

“Terima kasih sudah memilih IKN. Ini bukti nyata kalau masyarakat adat dan organisasi daerah punya sense of belonging dan terlibat aktif dalam pembangunan ibu kota negara,” kata mantan Menteri PUPR tersebut.

Misi Menuju Indonesia Emas

Ketua Umum PDKT Kaltim, H. Syaharie Jaang, membawa visi besar dalam Mubes kali ini. Mengusung tema “Mewujudkan Dayak Berkualitas Menuju Indonesia Emas”, Jaang menegaskan komitmennya untuk nge-gas peningkatan kualitas SDM warga Dayak.

Targetnya jelas: Generasi Dayak harus jadi pemain kunci, bukan sekadar saksi sejarah. Mereka harus punya skill yang kompetitif untuk mengisi posisi-posisi strategis di tanah kelahiran mereka sendiri.

“Mubes ini adalah titik temu antara tradisi yang kita jaga, masa depan yang kita tuju, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa ini,” tutup Jaang dengan optimis. (ray)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *