BPJS Kesehatan Samarinda Sasar 10.000 Peserta PBI Nonaktif, Yang Sakit Bisa Reaktivasi Cepat!
Samarinda, nusaetamnews.com : Kabar penting buat warga Kota Tepian. BPJS Kesehatan Cabang Samarinda mencatat ada 10.073 jiwa Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan yang saat ini statusnya nonaktif per Januari 2026.
Untuk mengatasi hal ini, BPJS menggandeng kecamatan, kelurahan, hingga Puskesmas guna menyosialisasikan prosedur reaktivasi agar warga tidak kesulitan saat membutuhkan layanan medis.
Jalur Khusus Buat Kondisi Mendesak
Kabag Layanan Mutu Kepesertaan BPJS Kesehatan Samarinda, Aslamiyah, menjelaskan ada “jalur ekspres” bagi warga yang butuh penanganan medis segera.
- Syarat Utama: Warga harus membawa dokumen resmi atau surat hasil pemeriksaan dari Fasilitas Kesehatan (Faskes).
- Proses: Data tersebut akan diunggah ke sistem Kementerian Sosial untuk diaktifkan kembali secara cepat.
- Catatan: Tanpa surat dari Faskes, sistem pusat otomatis akan menolak pengajuan reaktivasi cepat.
Punya Kos-kosan? Maaf, Wajib Mandiri!
Bagi warga yang saat ini masih sehat, proses reaktivasi akan dilakukan lewat jalur reguler dengan verifikasi lapangan yang super ketat. Petugas dari TKSK, pendamping PKH, hingga BPS bakal mengecek langsung kondisi ekonomi pemohon.
Aslamiyah menceritakan temuan unik di lapangan: ada warga yang ingin mengaktifkan PBI, tapi ternyata punya mobil dan usaha kos-kosan 10 kamar.
“PBI adalah hak warga tidak mampu. Setelah diberi pemahaman, warga tersebut akhirnya sadar dan bersedia menjadi peserta mandiri,” ungkapnya.
Gotong Royong Nasional
BPJS Kesehatan kembali mengingatkan bahwa sistem JKN adalah bentuk gotong royong. Iuran yang dibayar oleh warga yang sehat akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan warga yang sedang sakit.
Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinsos Samarinda, Sofyan Agus, menegaskan bahwa penyaringan ulang ini penting banget. “Jumlah PBI JK sangat banyak, jadi harus benar-benar tepat sasaran. Yang sehat tidak bisa lewat jalur reaktivasi cepat, harus lewat proses pengecekan lapangan,” tegasnya. (ant/one)