Bambang Arwanto: Menenun Harmoni Antara Devisa dan Kelestarian di Jantung Karbon Kaltim
Ruangan itu terasa sejuk, jauh dari kesan kaku perkantoran birokrasi pada umumnya. Tanaman hijau yang tertata asri di sudut ruangan seolah menjadi cermin dari pemikiran sang penghuninya. Di balik meja kerja Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, sosok pria dengan senyum yang selalu mengembang menyambut kedatangan kami dengan hangat.
Ia adalah Bambang Arwanto, Kepala Dinas ESDM Kaltim. Bagi siapa pun yang baru pertama kali menemuinya, kesan “pejabat tinggi” yang berjarak seketika luruh oleh pembawaannya yang humble dan menyenangkan. Namun, di balik keramahan itu, tersimpan visi besar dan kegelisahan yang mendalam tentang masa depan bumi etam.
Latar Belakang Lingkungan: Sebuah Kompas Moral
Bambang bukanlah orang baru yang “terjun bebas” ke dunia pertambangan. Latar belakang pendidikan dan jiwanya yang kental dengan isu lingkungan menjadi warna pembeda dalam kepemimpinannya. Baginya, jabatan ini bukan sekadar mengurus izin atau angka-angka produksi, melainkan memegang amanah untuk menjaga keseimbangan alam.
“Berbicara soal tambang di Kaltim, kita bicara soal anugerah sekaligus tantangan besar,” ujarnya sambil sesekali melempar senyum khasnya.
Ia menyadari betul posisi dilematis yang ia duduki. Di satu sisi, sektor pertambangan adalah urat nadi ekonomi yang menyumbang devisa negara dan kontribusi yang besar pada PDRB Kaltim, termasuk pendapatan asli daerah (PAD) . Namun di sisi lain, ia tidak ingin kekayaan alam ini menjadi kutukan bagi anak cucu di masa depan.
Menolak Narasi “Gali Lalu Pergi”
Salah satu poin yang ditekankan Bambang dengan nada bicara yang lebih serius adalah soal tanggung jawab pascatambang. Ia secara tegas menolak pola pikir perusahaan yang hanya mau mengeruk keuntungan tanpa memedulikan pemulihan bentang alam.
“Saya tidak mau melihat bentang alam kita rusak, lalu perusahaan pergi begitu saja tanpa melakukan reklamasi yang benar. Itu tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Bagi Bambang, keberhasilan sebuah industri tambang tidak diukur dari seberapa banyak tonase yang dikapalkan, melainkan dari seberapa hijau lahan tersebut kembali setelah masa produksinya usai. Upaya-upaya kuat terus ia dorong agar perusahaan memiliki komitmen nyata dalam pengelolaan lingkungan yang mementingkan keberlanjutan (sustainability).
Mencari Titik Ekuilibrium
Visi Bambang Arwanto adalah mencari titik ekuilibrium—sebuah keseimbangan antara eksploitasi dan konservasi. Ia selalu berusaha mengedepankan kebijakan yang memastikan aktivitas pertambangan berjalan beriringan dengan upaya pelestarian.
Beberapa langkah strategis yang ia tempuh antara lain:
- Pengawasan Ketat: Memastikan setiap perusahaan menjalankan dokumen rencana reklamasi dan pascatambang secara disiplin.
- Transformasi Energi: Mendorong kesadaran bahwa Kaltim harus mulai bersiap menghadapi era pasca-tambang dengan hilirisasi dan energi terbarukan.
- Dialog Humanis: Mendekati pelaku usaha bukan hanya dengan aturan yang kaku, tapi dengan edukasi bahwa lingkungan yang terjaga adalah investasi jangka panjang bagi mereka juga.
Menatap Masa Depan
Sore itu, di ruangannya yang asri, Bambang Arwanto menunjukkan bahwa birokrasi pertambangan bisa memiliki “hati”. Dengan pembawaan yang santun namun prinsip yang teguh, ia sedang berusaha membuktikan bahwa kemajuan ekonomi dari perut bumi tidak harus dibayar dengan kehancuran ekosistem.
Bagi Bambang, tugasnya di Dinas ESDM adalah tentang pengabdian. Sebuah pengabdian untuk memastikan bahwa cahaya dari lampu-lampu di rumah warga, yang ditenagai oleh energi dari Kaltim, tidak harus memadamkan masa depan lingkungan di tanah tempat mereka berpijak. (setia wirawan)