Balikpapan: Menolak “Emas Hitam”, Memeluk Masa Depan
Di Kalimantan Timur, batu bara adalah raja. Lubang-lubang tambang raksasa dan tongkang yang mengular di sungai adalah pemandangan lazim. Namun, cobalah berkendara menyusuri Jalan Jenderal Sudirman atau melirik ke arah Teluk Balikpapan. Anda tidak akan menemukan satu pun izin pertambangan batu bara di sana.
Balikpapan berdiri tegak sebagai kota terkaya dan paling modern di Kaltim justru dengan cara mengharamkan eksploitasi batubara di wilayahnya. Mengapa kota ini bisa tetap “tajir” tanpa harus menggali tanahnya?
Komitmen Politik: Warisan yang Tak Terbeli
Rahasia pertama bukan soal uang, tapi soal nyali. Sejak era 2000-an, para pemimpin Balikpapan secara konsisten menolak menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP). Padahal, data menunjukkan sekitar 65% daratan Balikpapan mengandung batu bara.
Alih-alih tergiur royalty instan, pemerintah kota memilih menjaga Hutan Lindung Sungai Manggar dan Hutan Lindung Wain. Logikanya sederhana namun vital: Jika hutan ditambang, Balikpapan akan kehilangan sumber air bersih dan terancam banjir bandang. Investasi lingkungan ini akhirnya membayar lunas dengan kualitas udara terbaik dan raihan Adipura Kencana berkali-kali.
Mesin Ekonomi: Bukan Tambang, Tapi Kilang
Jika daerah lain sibuk menggali, Balikpapan sibuk mengolah. Kota ini adalah jantung pengolahan migas di Indonesia Timur. Keberadaan Kilang Pertamina (RU V) yang kini sedang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) senilai ratusan triliun rupiah menjadi motor utama.
Kilang ini tidak hanya menciptakan ribuan lapangan kerja, tapi juga menghidupkan ekosistem UMKM, katering, transportasi, hingga perhotelan. Balikpapan membuktikan bahwa menjadi “dapur” energi jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar menjadi “ladang” ekstraksi.
Strategi “Pintu Gerbang”: Magnet Jasa dan Logistik
Tanpa tambang, Balikpapan menyulap diri menjadi Kota Jasa. Dengan Bandara Internasional SAMS Sepinggan dan Pelabuhan Semayang yang modern, Balikpapan menjadi gerbang logistik utama untuk seluruh Kalimantan.
Banyak perusahaan tambang raksasa yang beroperasi di Kutai Kartanegara atau Paser, namun kantor pusat, pusat logistik, dan tempat tinggal para ekspatriatnya berada di Balikpapan. Hasilnya? Pajak hotel, restoran, dan jasa lainnya mengalir deras ke kas daerah tanpa harus ada satu pun alat berat yang merusak hutan kota.
“Otot” Bagi Ibu Kota Nusantara (IKN)
Kini, di tahun 2026, posisi Balikpapan makin tak tergoyahkan. Dalam konsep aglomerasi Tri-City (IKN-Balikpapan-Samarinda), Balikpapan didapuk sebagai “Otot”.
- IKN sebagai pusat saraf (pemerintahan).
- Samarinda sebagai jantung (pusat sejarah dan perdagangan).
- Balikpapan sebagai otot (pusat logistik, industri petrokimia, dan energi terbarukan).
Kehadiran IKN membuat nilai properti di Balikpapan meroket dan menarik minat investor global untuk membangun industri hijau (green industry) yang jauh lebih keren dan bersih daripada tambang konvensional.
Ekonomi Hijau Itu Nyata
Balikpapan adalah bukti hidup bahwa sebuah daerah di Indonesia bisa sangat maju tanpa harus mengandalkan komoditas ekstraktif yang merusak lingkungan. Dengan fokus pada industri pengolahan, jasa, dan pelestarian alam, Balikpapan tidak hanya membangun kota untuk hari ini, tapi menyiapkan tempat tinggal yang layak untuk generasi mendatang. (setia wirawan)