Bahasa Kutai Muara Kaman Sudah Kehilangan Penutur Asli, Mulok Bahasa Wajib Diajarkan di SMA Tiga Jenjang!
Samarinda, nusaetamnews.com : Bahaya! Identitas budaya Kalimantan Timur (Kaltim) literally di ujung tanduk! Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim sedang panik setelah riset mengungkap fakta menyedihkan: Bahasa Kutai Muara Kaman bahkan sudah kehilangan penutur aslinya!
Kajian Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim ini jadi wake-up call buat pemerintah. Kalau gak ada aksi cepat, Kaltim berisiko besar kehilangan warisan budayanya.
Strategi Penyelamatan Dimulai dari Sekolah
Disdikbud Kaltim kini all-out menjalankan misi penyelamatan bahasa daerah:
“Pelestarian bahasa daerah harus dimulai sejak dini dari sekolah,” tegas Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati.
Langkah Nyata:
- Kurikulum Mulok Tiga Jenjang Rampung: Penyusunan kurikulum muatan lokal (mulok) berbasis bahasa daerah untuk seluruh jenjang SMA (Kelas 10, 11, dan 12) kini sudah selesai! Program ini melibatkan 20 penulis dan dua akademisi sebagai mentor.
- Sekolah Bebas Pilih: Tersedia enam jenis mulok yang bisa dipilih sekolah, mencakup bahasa daerah, seni budaya, dan potensi sumber daya alam. Sekolah didorong memilih bahasa yang sesuai dengan karakter daerahnya:
- Paser pilih Bahasa Paser.
- Berau pilih Bahasa Berau.
- Kutai pilih Bahasa Kutai.
Jaga Warisan Budaya Sejak Dini
Tujuan utamanya jelas: memastikan generasi muda Kaltim kenal dan menghargai bahasa ibu mereka, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas.
“Anak-anak harus tahu bahwa bahasa daerah mereka adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga,” tutup Atik.
Intinya: Saat Bahasa Kutai Muara Kaman sudah punish, kurikulum sekolah jadi benteng terakhir untuk menjaga bahasa-bahasa daerah lain di Kaltim agar tetap hidup dan punya penutur baru. (Ant/one)