Subscribe

Anti-Rugi Club! Pemprov Kaltim Dorong Petani Pakai Asuransi Biar Gak ‘Nangis’ Pas Gagal Panen

2 minutes read

SAMARINDA, nusaetamnews.com: Risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem hingga serangan hama masih jadi momok buat para petani di Kalimantan Timur. Menanggapi hal ini, Pemprov Kaltim melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) mulai tancap gas mengedukasi para petani agar melek asuransi usaha tani sebagai jaring pengaman finansial.

Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Himawan, menyebutkan bahwa digitalisasi dan asuransi adalah kunci agar petani tetap survive saat bencana melanda.

“Kami lagi gencar sosialisasi digitalisasi dan akses asuransi. Tujuannya jelas, supaya mereka terlindungi kalau sampai terjadi gagal panen,” kata Fahmi di Samarinda, Senin (12/1/2026).

Untungnya Berlipat, Tapi Partisipasi Masih Minim

Program asuransi ini sebenarnya punya benefit yang cukup menggiurkan bagi para pahlawan pangan:

  • Ganti Rugi Tunai: Petani bisa dapat klaim hingga Rp6 juta per hektare kalau lahannya rusak parah kena bencana.
  • Subsidi Benih: Kalau gagal panen, petani terdaftar berhak dapat diskon harga benih sebesar 80% untuk musim tanam berikutnya.

Meski untung banyak, kenyataan di lapangan berkata lain. Fahmi mengakui partisipasi petani masih rendah karena kurangnya informasi yang sampai ke akar rumput. Selain itu, banyak petani yang mengaku gaptek alias kesulitan mengoperasikan aplikasi pendaftaran.

Fokus Area Rawan & Gandeng Penyuluh

Kawasan Lempake, Samarinda, menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus karena masuk kategori rawan bencana. Gak cuma Lempake, Pemprov juga lagi melakukan mapping di seluruh kabupaten/kota untuk mencari titik-titik pertanian yang berisiko tinggi kena banjir, kekeringan, atau serangan hama.

“Kami sedang bergerak cepat mengidentifikasi wilayah prioritas yang punya risiko tinggi,” tambah Fahmi.

Menariknya, meski saat ini status Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) secara administratif sudah ditarik ke pusat, DPTPH Kaltim tetap menjaga sinergi kuat dengan mereka. Para penyuluh inilah yang jadi “ujung tombak” untuk mendampingi petani yang kesulitan mendaftar lewat aplikasi. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *