Akulturasi Estetik: Dua Masjid Cheng Hoo Kaltim Jadi Simbol Harmoni “Tirai Bambu” dan Islam
Kutai Kartanegara, nusaetamnews.com : Jejak budaya Tionghoa dan nilai-nilai Islam menyatu indah di Benua Etam. Dua Masjid Cheng Hoo yang berlokasi di Kutai Kartanegara (Kukar) dan Samarinda kini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perdamaian dan destinasi wisata religi favorit, terutama menjelang musim mudik Lebaran.
Masjid dengan arsitektur khas klenteng ini terus menarik minat pelancong berkat desainnya yang ikonis dan fasilitasnya yang ramah musafir.
Rest Area Favorit di Jalur Poros Samarinda-Balikpapan
Salah satu magnet utama adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo yang berdiri strategis di Jalan Poros Samarinda-Balikpapan, Desa Batuah, Kukar. Sejak didirikan pada 2006 oleh pengusaha mualaf keturunan Tionghoa, Yostomo, masjid ini didominasi warna merah menyala dengan atap pagoda yang megah.
Sekretaris Pengurus Masjid, Nurdin Haddade, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memanjakan para musafir yang melintas. “Kami menyediakan area parkir luas, toilet higienis, hingga tempat istirahat gratis. Banyak pendatang, bahkan dari luar daerah seperti Banjarmasin, singgah untuk sekadar mandi atau memulihkan tenaga di teras yang nyaman,” ujar Nurdin, Kamis (5/3).
Meski kehadiran jalan tol sedikit mengalihkan arus kendaraan, masjid ini tetap hidup dengan tradisi swadaya warga sekitar, seperti buka puasa bersama setiap Ramadhan. Satu aturan tegas bagi pengunjung: dilarang tidur di dalam ruang salat utama demi menjaga kesucian area ibadah.
Pesona Akulturasi di Jantung Kota Samarinda
Tak kalah menawan, Masjid Cheng Hoo di Jalan Ruhui Rahayu 1, Samarinda, juga menawarkan visual yang unik. Bangunan ini memadukan nuansa khas Negeri Tirai Bambu dengan budaya Arab melalui kombinasi warna merah, hijau, dan kuning yang mencolok.
Beberapa detail seni yang mencuri perhatian di sini meliputi:
- Desain Pagoda: Pintu masuk berbentuk pagoda dengan ukiran relief naga bernilai seni tinggi.
- Simbol Harmoni: Penempatan patung singa lilin yang berdampingan dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda masjid.
Kehadiran kedua masjid ini membuktikan bahwa perbedaan budaya justru bisa menciptakan harmoni yang indah dan memberikan manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat Kalimantan Timur. (ant/one)