“Aku adalah tuan atas tubuhku, bukan budak dari nafsuku.”
Ramadan sering kali datang dan pergi seperti tamu yang terburu-buru. Namun, bagi mereka yang berhenti sejenak untuk merenung, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga terbenamnya matahari. Ia adalah sebuah Madrasah—sebuah sekolah kehidupan yang mengajarkan kita untuk kembali menjadi manusia yang utuh.
Menemukan Kembali Kendali Diri
Di luar bulan Ramadan, kita sering kali diperbudak oleh keinginan kita sendiri. Kita makan saat ingin, bicara tanpa saring, dan mengejar dunia tanpa henti. Puasa hadir sebagai “rem” yang paksa. Saat kita menahan haus dan lapar, kita sebenarnya sedang berbisik kepada jiwa kita: “Aku adalah tuan atas tubuhku, bukan budak dari nafsuku.”
Dalam keheningan perut yang kosong, ada ruang yang terbuka bagi ruh untuk bernapas. Kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan kita memuaskan keinginan, melainkan pada kemampuan kita untuk menunda kesenangan demi tujuan yang lebih mulia.
Kejujuran dalam Kesendirian
Puasa adalah ibadah yang paling privat. Seseorang bisa saja makan di tempat tersembunyi tanpa ada yang tahu, namun ia memilih untuk tidak melakukannya. Inilah esensi dari Ihsan—merasa diawasi oleh Sang Pencipta dalam setiap tarikan napas. Ramadan melatih integritas kita; bahwa kejujuran yang paling murni adalah jujur pada diri sendiri dan Tuhan saat tidak ada mata manusia yang melihat.
Lapar yang Menyatukan
Seringkali, kita memahami penderitaan orang lain hanya lewat angka statistik atau berita di layar kaca. Ramadan mengubah pemahaman kognitif itu menjadi pengalaman fisik. Rasa perih di lambung saat siang hari adalah jembatan empati yang menghubungkan si kaya dan si miskin.
Puasa mengingatkan kita bahwa nikmat yang selama ini kita anggap remeh—seteguk air putih, sebutir kurma—adalah kemewahan bagi orang lain. Dari rasa lapar ini, seharusnya lahir kedermawanan yang tidak dipaksakan, melainkan muncul dari kesadaran bahwa “kita berbagi rasa yang sama.”
Memanen Keheningan di Dunia yang Bising
Kita hidup di era yang sangat bising, di mana informasi dan distraksi datang bertubi-tubi. Ramadan mengajak kita untuk melakukan spiritual detox. Melalui shalat malam (Tarawih) dan tadarus Al-Quran, kita diajak untuk “pulang” ke dalam batin.
Refleksi akhir dari puasa bukanlah tentang seberapa mewah hidangan berbuka kita, atau seberapa baru pakaian lebaran kita nanti. Melainkan:
- Apakah hati kita menjadi lebih lembut?
- Apakah lisan kita menjadi lebih terjaga dari menyakiti sesama?
- Apakah ego kita sedikit mengecil untuk memberi ruang bagi kerendahhatian?
Ramadan adalah sebuah perjalanan menuju Fitrah (kesucian asal). Sebagaimana emas yang harus dibakar untuk memisahkan kotorannya, jiwa kita “dibakar” dengan dahaga dan lapar agar yang tersisa hanyalah kemurnian karakter. Semoga saat fajar Idul Fitri menyapa, kita bukan sekadar merayakan kemenangan atas lapar, melainkan kemenangan atas diri kita yang lama. (setia wirawan)