Aksi Warga Kukar Lindungi Emas Hijau! Program M4CR Libatkan Masyarakat Petakan Biodiversitas Mangrove
SAMARINDA – Inisiatif keren datang dari pesisir Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur! Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) dari Kementerian Kehutanan RI lagi all-out memfasilitasi Kelompok Masyarakat (Pokmas) setempat buat memetakan keanekaragaman hayati (biodiversitas) mangrove.
Aksi ini bukan cuma buat lingkungan, tapi juga buat support ekonomi berkelanjutan warga!
Fasilitasi pemetaan ini dilakukan di dua desa di Kecamatan Anggana, Kukar: Desa Sepatin dan Desa Kutai Lama.
Teknik PRA: Warga Jadi Analis Utama Ekosistem
Staf Safeguard Program M4CR Kementerian Kehutanan, Alfadhli, menjelaskan bahwa pemetaan biodiversitas ini menggunakan metode yang powerful sekaligus sederhana: Participatory Rural Appraisal (PRA).
Bayangin, cuma pakai alat simpel kayak lembar plano, spidol, dan poster satwa, warga berhasil mengidentifikasi lebih dari 40 jenis flora dan fauna yang masih betah tinggal di kawasan mangrove mereka!
“Melalui PRA, warga tidak hanya memberikan data, tetapi turut menganalisis kondisi ekosistem secara kolektif. Bahkan, warga menjadi analis utama ekosistemnya sendiri. Dengan alat sederhana, mereka mampu menghasilkan gambaran biodiversitas yang sangat detail,” kata Alfadhli.
Prosesnya sangat interaktif: warga berdiskusi terbuka soal kapan satwa muncul, seberapa banyak jumlahnya, perilaku hariannya, bahkan dampaknya ke pertumbuhan mangrove. Informasi ini kemudian dikumpulkan dalam matriks besar, sekaligus jadi proses memvalidasi pengetahuan ekologis lokal yang udah mereka pegang turun-temurun.
Data Valid Mulai dari Bekantan Sampai Pesut!
Data yang terkumpul dari dua desa ini ngasih insight berharga, mencakup keberadaan:
- Primata (misalnya, Bekantan)
- Burung Air
- Reptil Mangrove
- Tanda-tanda menurunnya populasi Pesut di kawasan sungai.
Informasi detail ini bakal jadi landasan utama buat nyusun rencana pengelolaan biodiversitas dan mitigasi gangguan satwa terhadap proyek rehabilitasi mangrove yang sedang berjalan.
Krisisi Mangrove: Konversi Jadi Tambak dan Peran Strategisnya
Di sisi lain, Wignya Utama, Sustainable Mangrove Management Coordinator Program M4CR, ngasih catatan penting soal kondisi ekosistem saat ini.
Berdasarkan kajian ilmiah dan citra satelit Delta Mahakam (1984–2025), terjadi konversi mangrove secara besar-besaran menjadi tambak sejak tahun 1990-an.
Data perubahan lahan 1999-2022 menunjukkan penurunan tutupan mangrove yang signifikan, yang ujung-ujungnya bikin pesisir makin rentan terhadap abrasi dan intrusi air laut.
Wignya menekankan betapa strategisnya peran Mangrove:
- Penyaring Limbah: Mampu menyaring limbah tambak (perlu 2–5 ha mangrove per 1 ha limbah).
- Habitat Satwa: Jadi rumah bagi lebih dari 3.000 spesies ikan.
- Penyimpan Karbon: Kapasitas menyimpan karbon 3–5 kali lebih besar dibanding hutan daratan.
- Pelindung Pantai: Memberikan perlindungan pantai 5 kali lebih hemat daripada membangun infrastruktur buatan.
Intinya, mangrove is money—baik secara ekologi maupun ekonomi bagi masyarakat pesisir Kukar! (ant/one)