Subscribe

Aji Galeng: Melawan Lupa di Balik Megahnya Proyek IKN

2 minutes read

Nusaetamnews.Menulis sejarah lokal seringkali terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Inilah yang dirasakan Bambang Arwanto saat menyusun narasi tentang Aji Galeng, tokoh besar yang kisahnya nyaris terkubur zaman. Sebagai keturunan generasi kelima, Bambang harus berhadapan dengan tembok tebal: minimnya catatan tertulis di tengah dominasi arsip kolonial.

Buku ini hadir sebagai bentuk “kejujuran intelektual”. Bambang mengakui bahwa ia sangat bersandar pada oral history alias sejarah lisan. Di mata akademisi, sumber lisan mungkin dianggap “nomor dua”. Namun, bagi masyarakat adat, ingatan para tetua adalah perpustakaan hidup yang paling jujur.

“Tantangannya adalah memverifikasi memori kolektif ini dengan sumber primer agar narasi yang muncul nggak terjebak jadi mitos belaka,” ungkap Bambang.

IKN Bukan “Tabula Rasa”

Munculnya buku ini di tengah hiruk-pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terasa sangat pas—bahkan mungkin puitis. Ada ketakutan besar bahwa pindahnya IKN dianggap sebagai Tabula Rasa, sebuah anggapan kalau Kalimantan Timur adalah kanvas kosong yang baru punya peradaban setelah pusat datang melukis di sana.

“Narasi tanah kosong ini bahaya banget, karena bisa memutus akar sejarah masyarakat lokal,” tegas Bambang.

Kisah Aji Galeng adalah bukti nyata kalau Kaltim bukan “tanah kosong”. Jauh sebelum deru mesin proyek dimulai di Penajam Paser Utara, wilayah Telake Balik di abad ke-19 sudah punya tatanan masyarakat yang beradab, religius, dan berdaulat. Ironisnya, lokasi pusat peradaban masa lalu itu kini masuk dalam zona Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.

Pesan Untuk Masa Depan

Pesan buku ini tegas: pembangunan kota masa depan (IKN) jangan sampai mencabut memori masa lalu. Nilai kepemimpinan Aji Galeng yang berbasis kearifan lokal dan perlindungan alam harusnya jadi “nyawa” bagi IKN.

Membawa kembali nama Aji Galeng ke kesadaran publik adalah upaya agar warga Kalimantan Timur tetap menjadi tuan rumah, bukan sekadar tamu yang menonton pembangunan di tanah mereka sendiri. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *