Gak Cuma Kejar Khatam, Kemenag Rilis Juknis Baru: Madrasah Fokus “Level Up” Karakter di Ramadan 2026
Jakarta, nusaetamnews.com : Kementerian Agama (Kemenag) resmi menerbitkan “rules of the game” baru untuk pembelajaran di madrasah selama bulan suci. Lewat Keputusan Dirjen Pendis Nomor 1290 Tahun 2026, Madrasah di seluruh Indonesia diminta menggeser fokus: dari sekadar akademik ke penguatan spiritual dan empati sosial yang lebih nyata.
Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa Ramadan tahun ini adalah momentum untuk bikin sekolah jadi lebih bermakna. “Penyesuaian jadwal bukan cuma soal teknis jam masuk, tapi gimana menumbuhkan iman, akhlak, dan kepedulian yang kontekstual,” ujar Suyitno di Jakarta, Rabu (18/2).
Tiga Fase “Ramadan Journey” bagi Siswa
Pembelajaran tahun ini nggak melulu di kelas. Kemenag membagi proses belajar dalam tiga tahap strategis:
- Tahap Tarhib (Pre-Ramadan): Fokus pada bonding keluarga dan kesiapan mental di rumah.
- Tahap Inti (Madrasah): Tatap muka intensif untuk pembinaan karakter, tahsin Al-Quran, hingga refleksi diri yang melibatkan orang tua.
- Tahap Idul Fitri (Post-Ramadan): Implementasi nilai sosial lewat silaturahmi dan aksi nyata di masyarakat.
Pesantren Ramadan & No More “Target Kuantitas”
Ada poin menarik dalam juknis kali ini. Kemenag secara tegas menyatakan bahwa keberhasilan Ramadan bukan diukur dari berapa kali siswa khatam Al-Quran secara kuantitas.
“Kita nggak arahkan ke target kuantitatif seperti wajib khatam. Yang utama itu kualitas bacaan, pemahaman, dan gimana nilai agama itu nempel di kehidupan sehari-hari,” tambah Suyitno.
Selain itu, Madrasah diwajibkan menggelar Pesantren Ramadan minimal 3 hari, dengan model yang fleksibel: bisa full day, menginap (mukim), atau terintegrasi dengan jadwal harian.
Evaluasi Lewat Jurnal Refleksi, Bukan Cuma Absensi
Lupakan laporan administratif yang membosankan. Evaluasi kali ini bakal lebih “ngulik” perkembangan soft skill siswa melalui:
- Jurnal Refleksi: Catatan pengalaman spiritual siswa.
- Kartu Kendali Tahsin: Pantau kualitas bacaan.
- Lembar Observasi Sikap: Khusus untuk jenjang RA dan MI kelas awal.
Aksi Nyata: Edukasi Zakat & Berbagi Takjil
Biar nggak cuma teori, Madrasah didorong jadi “hub” sosial. Siswa bakal diajak langsung praktik edukasi zakat fitrah hingga bagi-bagi takjil. Tujuannya jelas: membentuk empati sosial sejak dini. “Keberhasilan program ini diukur dari perubahan perilaku murid, bukan semata-mata kelengkapan laporan kegiatan di atas kertas,” pungkas Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah. (ant/one)