Subscribe

Danantara: “Superholding” BUMN yang Lagi Diuji, Bisa Bikin Indonesia Bebas Korupsi?

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :  Kalau kamu berpikir urusan BUMN itu membosankan, coba cek kabar terbaru dari kampus Universitas Mulawarman (Unmul). Di sana, para pakar lagi kumpul buat membedah satu entitas raksasa yang digadang-gadang jadi kunci masa depan ekonomi kita: BPI Danantara (Daya Anagata Nusantara).

Satu tahun sudah Danantara berjalan di bawah visi Presiden Prabowo Subianto. Pertanyaan besarnya: Apakah lembaga ini cuma sekadar “wadah baru” atau beneran bisa jadi tameng antikorupsi?

Rektor Unmul, Prof. Abdunnur, punya optimisme tinggi. Menurutnya, Danantara adalah bukti kalau pemerintah nggak main-main soal bersih-bersih BUMN. Bayangkan saja, pemerintah melakukan likuidasi besar-besaran, dari tadinya 1.050 entitas BUMN “disunat” jadi tinggal sekitar 200-an saja.

“Ini jadi sebuah kepercayaan publik bahwa ada reformasi dan restrukturisasi di dalam birokrasi pengelolaan BUMN,” ujar Prof. Abdunnur di sela forum diskusi bareng Nagara Institute, Selasa (10/2).

Kenapa Danantara Harus “Professional Banget”?

Targetnya nggak main-main. Danantara diharapkan jadi benchmark (standar terbaik) dalam mengelola aset negara. Bukan cuma soal gaya-gayaan punya Superholding kayak Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia, tapi soal gimana aset itu dikelola dengan prinsip:

  • Profesionalisme: Dikelola orang-orang yang memang ahli, bukan sekadar “titipan”.
  • Prinsip Kehati-hatian: Nggak asal investasi.
  • Audit Ketat: Biar nggak ada lagi celah buat korupsi.

Dari Samarinda, Langsung ke Meja Presiden

Forum bertajuk “Pengelolaan Badan Usaha Milik Negara di Era Ekonomi Baru” ini makin seru karena diinisiasi oleh Nagara Institute dan Akbar Faizal Uncensored (AFU). Isinya bukan seminar satu arah yang bikin ngantuk, tapi beneran adu gagasan antara akademisi Unmul dengan pakar dari Jakarta.

Ada pakar hukum tata negara Prof. Satya Arinanto, praktisi hukum Dr. R. Edi Sewandono, sampai ekonom Dr. Mohamad Dian Revindo. Mereka membedah apakah Danantara ini sudah aman secara regulasi dan beneran bisa bikin ekonomi daerah—khususnya Kaltim—makin cuan.

Akbar Faizal menekankan kalau forum ini adalah “suara daerah” yang nggak boleh dianggap remeh. Kaltim bukan cuma penonton, tapi pilar ekonomi nasional.

“Seluruh aspirasi dari sini akan dibukukan dan diserahkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto,” kata Akbar. Ini artinya, pemikiran kritis dari mahasiswa dan dosen di Samarinda bakal jadi bahan pertimbangan langsung buat kebijakan di pusat.

Dengan demikian, Danantara punya misi berat: mengubah wajah BUMN yang sering dianggap “sakit” jadi mesin uang negara yang bersih dan efisien. Kalau merger dan restrukturisasi ini sukses, kepercayaan investor bakal naik, dan ujung-ujungnya ekonomi kita yang makin stabil. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *