ASN Harus Jadi Pengurai Masalah, Bukan Sumber Masalah
SAMARINDA – Hari terakhir Orientasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Angkatan 500–509 di lingkungan Pemprov Kaltim ditutup dengan pesan tegas dan reflektif. Mantan Kepala Bandiklat Kaltim, Syafrudin Pernyata mengingatkan para peserta bahwa status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab moral di hadapan publik.
Sebanyak 379 PPPK yang diangkat per 1 Mei 2025 itu mendapat pembekalan tentang Penerapan Fungsi dan Tujuan ASN di Tempat Kerja. Syafrudin menegaskan, ASN, baik PNS maupun PPPK adalah wajah negara di mata masyarakat. Dari cara melayani hingga bersikap, publik menilai kualitas pemerintahan.
“ASN harus jadi solusi, bukan pembuat masalah. ASN harus menjadi pengurai masalah,” tegasnya, Sabtu 7 Januari 2026.
Menurutnya, hidup dan pekerjaan tidak pernah lepas dari persoalan. Namun masalah bukan untuk dihindari. Menghindar hanya akan menumpuk beban. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyelesaikan persoalan dengan komunikasi yang sehat dan kepala dingin.
“Hidup itu rentetan masalah. Jangan lari. Selesaikan dengan komunikasi yang baik. Apalagi kalau sengaja mencari masalah, pasti akan dapat masalah,” ujar mantan Karo Humas Setda Provinsi Kaltim itu mengingatkan.
Syafrudin menguraikan, setiap ASN memiliki tiga fungsi utama yaitu pelaksana kebijakan publik secara akuntabel, pelayan publik yang profesional, serta penjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Fungsi ini bukan teori di atas kertas, melainkan pedoman sikap sehari-hari.
Di era media sosial, tantangan ASN kian kompleks. Ia mengingatkan agar PPPK tidak membawa perbedaan pandangan politik, agama, atau isu sensitif lainnya ke dalam lingkungan kerja. Polarisasi di dunia maya bisa merembet menjadi ketegangan di kantor, mulai dari tim yang tidak solid, enggan bekerja sama, hingga konflik terbuka.
“Jaga netralitas dan etika. Jangan sebarkan hoaks, jangan ikut memperkeruh konflik. ASN harus jadi peneduh, bukan pemantik perpecahan,” pesannya.
Ia juga menyinggung gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. ASN diminta bijak dan tidak menampilkan kehidupan hedonis yang bisa menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat yang dilayani.
Dalam pelayanan, Syafrudin menekankan pentingnya sikap ramah, empati, cepat, tepat, dan tidak diskriminatif. Kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan realitas yang harus dirawat dalam bingkai persatuan.
“Disiplin itu penting, tapi empati jauh lebih penting,” ucapnya.
Pesan itu menjadi penutup orientasi sekaligus pengingat bahwa menjadi ASN bukan hanya tentang menyelesaikan tugas administratif, melainkan tentang menjaga kepercayaan publik, setiap hari, dalam setiap tindakan.
Orientasi PPPK 2026 Angkatan I ini ditutup oleh Kepala BPSDM Kaltim Nina Dewi. Orientasi digelar secara daring 5-7 Januari 2026. PPPK yang menjadi peserta orientasi berasal dari organisasi perangkat daerah lingkup Pemprov Kaltim dan para guru SMA/SMK Negeri di Kaltim.