Subscribe

Samarinda Sepekan: Antara Jeritan Tanah Longsor dan Perang Melawan Penyakit Masyarakat

3 minutes read

Sepekan terakhir, Kota Tepian tak sekadar disibukkan oleh rutinitas warga yang menembus kemacetan. Di balik riuh suara klakson, ada cerita tentang warga yang kehilangan sandaran hidup akibat alam, hingga upaya senyap kepolisian dalam menyapu bersih sisa-sisa “penyakit” di sudut kota.

Berikut adalah catatan mendalam mengenai denyut kriminalitas dan persoalan hukum yang mewarnai Samarinda sepekan belakangan.

Horor di Perumahan: Saat Alam Menuntut Jawaban Hukum

Jumat malam (6/2) di Perumahan Bumi Prestasi Kencana, Samarinda Seberang, harusnya menjadi waktu istirahat yang tenang. Namun, hujan deras mengubahnya menjadi mimpi buruk. Tanah di sisi jurang bergerak pelan namun pasti, menyeret dua rumah warga ke ambang kehancuran.

Masalah ini kini tak lagi sekadar musibah alam, tapi mulai bergeser ke ranah tanggung jawab hukum. BPBD Samarinda mulai menelisik: Siapa yang bertanggung jawab atas turap yang rapuh?

  • Dilema Fasum: Jika pengembang belum menyerahkan kewajiban fasilitas umum kepada Pemkot, maka beban hukum dan perbaikan ada di tangan mereka.
  • Pelajaran buat Property Hunter: Kasus ini menjadi alarm bagi warga Samarinda bahwa legalitas IMB dan kelayakan lahan bukan sekadar urusan administratif, tapi soal nyawa.

“Pesta” yang Berujung Jeruji

Di sisi lain kota, Satresnarkoba Polresta Samarinda tak mengendurkan serangan mereka. Dalam sepekan ini, beberapa penggerebekan senyap dilakukan di kantong-kantong yang diduga menjadi sarang peredaran narkotika.

Bukan lagi rahasia umum, wilayah seperti Samarinda Ulu dan Sungai Pinang masih menjadi “medan perang” melawan sabu. Meski yang tertangkap didominasi pengedar kelas teri, namun upaya ini krusial untuk memutus rantai pasokan ke anak muda Samarinda yang makin rentan terpapar.

Jalanan yang Belum “Sembuh” dari Balap Liar

Sabtu malam hingga Minggu dini hari tetap menjadi waktu yang rawan. Jalur-jalur lurus di pusat kota masih sering dijadikan arena adu adrenalin ilegal.

  • Tindakan Hukum: Tim gabungan tak hanya menyita motor, tapi juga mulai menerapkan sanksi tegas bagi pelaku balap liar yang mengganggu ketertiban umum.
  • Curhat Warga: Di media sosial, keluhan warga soal knalpot brong dan aksi nekat remaja ini mendominasi laporan keamanan, mendesak kepolisian untuk melakukan patroli yang lebih konsisten, bukan sekadar musiman.

Bayang-Bayang Tambang di Pinggiran

Meski tak tampak di pusat kota, sengketa lahan dan dugaan tambang ilegal di wilayah pinggiran seperti Palaran dan Samarinda Utara tetap menjadi “api dalam sekam”. Masalah hukum lingkungan ini menjadi sorotan karena berdampak langsung pada banjir kiriman yang kerap menggenangi jalan-jalan utama kota. Penegakan hukum terhadap “mafia lahan” menjadi tantangan besar yang dinantikan publik keberaniannya.

Catatan Akhir Pekan

Samarinda sepekan ini mengingatkan kita bahwa keamanan bukan cuma soal bebas dari jambret atau maling, tapi juga soal kepastian hukum dalam bermukim dan keberanian aparat menjaga ketenangan jalanan.

Kota ini memang sedang berbenah, tapi di celah-celah pembangunan itu, kewaspadaan warga tetap menjadi benteng pertama. (one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *