Subscribe

Gaza Board of Peace: Indonesia Pastikan Teknokrat Palestina Jadi “Mesin Utama” Pemulihan

2 minutes read

Jakarta, nusaetamnews.com : Diplomasi Indonesia untuk Palestina makin konkret! Pemerintah baru saja membocorkan struktur penting dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza. Nantinya, operasional di lapangan nggak bakal dipegang sembarang orang, melainkan oleh para teknokrat asli Palestina.

Langkah ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu para pakar hubungan internasional di Istana Kepresidenan, Rabu (4/2) malam.

Fokus pada Keahlian, Bukan Afiliasi Politik

Wamenlu Arif menjelaskan bahwa BoP akan memiliki badan pelaksana yang disebut National Committee (Komite Nasional). Menariknya, komite ini punya syarat ketat buat para anggotanya:

  • Siapa mereka? Teknokrat berkebangsaan Palestina.
  • Syarat Utama: Mereka harus independen, alias tidak punya afiliasi dengan kelompok politik tertentu.
  • Tugasnya? Menjadi eksekutor langsung dari semua program dan kegiatan yang sudah dirancang oleh BoP.

“Jadi benar-benar tim khusus dari orang Palestina sendiri yang akan menjalankan kegiatan di sana,” jelas Arif Havas.

Kerja Bareng “Geng” Muslim Dunia

Masuknya Indonesia ke BoP bukan langkah sendirian. Ini adalah hasil kesepakatan kolektif dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Turki, Pakistan, Mesir, hingga Arab Saudi.

Presiden Prabowo sendiri sudah menandatangani piagam pembentukan lembaga ini di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026 lalu, bergabung dengan deretan negara mulai dari Qatar, UAE, hingga beberapa negara Eropa seperti Belgia dan Hungaria.

Gimana Soal “Iuran” dari AS?

Amerika Serikat (AS) sebagai inisiator BoP memang sudah menetapkan adanya iuran keanggotaan. Tapi, Indonesia nggak mau buru-buru. Wamenlu Arif menyebut posisi Indonesia saat ini adalah:

  1. Konsultasi Dulu: Koordinasi intens dengan negara Muslim lainnya di BoP.
  2. Bikin Rambu-Rambu: Memastikan mekanisme penggunaan dananya transparan dan jelas.
  3. No Deal Yet: Belum ada angka pasti atau waktu pembayaran karena prosesnya masih panjang.

“Yang penting sekarang kita bikin detailnya dulu, rambu-rambunya seperti apa. Itu krusial banget,” tambah Arif.

Indonesia Siap “Cabut” Jika…

Meski serius bergabung, Indonesia tetap punya prinsip tegas. Sebelumnya, sempat muncul opsi bahwa Indonesia siap keluar dari BoP jika tujuan akhirnya tidak bermuara pada kemerdekaan penuh Palestina. Sebuah sinyal bahwa Indonesia nggak mau sekadar jadi “tukang donasi” tanpa solusi politik yang nyata. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *